Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • ardityategankputra 9:00 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: bubur, disappointment   

    time to forgive… (bubur story) 

    This midnight monologue is killing me somehow..
    by realizing something means hurting myself again in different ways…
    but, i feel no remorse, not at all!, it is only becoz i know,
    that, this is the concequences that i must take in my life..
    eventhough the pain is almost unbearable,, i know it’ll never kill me..
    it’ll only goin’ to hurt me, though, it is already does..
    well,,
    it doesn’t mean that i’ve give up already..
    but sometimes, all you need to have is only a shoulder to cry on..
    to let things that you need the most in your life,
    slip through your fingers..
    and just continue your life after that..
    and accepted that you’ve already lost,
    but knowing that you’ve lost without losing you sanity and your rationalty..
    hmmm..
    i know, and i realize it, eventhough that i didn’t like the way this event happens,
    i must admit it, that this experience makes me whole lot stronger and smarter in many ways..
    and also, fundamentaly built my maturity..
    for me..
    eventhough its soo hard, and sometimes hate to admit it,,
    it is bcoz of her quality, her personality, just bcoz the way she is..
    ‘i love her..’
    and i’m sure, that i don’t wanna lose her, not without a fight!
    but its all too late for now…
    and now…
    for me, after all that happens, all those deniying, all those cruciating
    moments of understanding and accepting..
    here we comes to an end…
    tonight..
    i forgive her..
    and the most important is,
    i forgive myself…
    for what have passed behind…
    no revenge motivation, nor time rewinder’s doraemon wish left..
    only laugh…
    and laugh that is all we’ve got left..
    huhhuhu…
    this is the biggest disappointment in my life, though..
    this is the ultimate lesson including the ultimate jokes in my life either…
    so,,
    nasi sudah menjadi bubur!
    mari bersama kita menyantap bubur tersebut…
    seraya tertawa…
    menyembunyikan tangisan di dalam dada…

     
    • saskhyaauliaprima 9:45 am on June 23, 2008 Permalink | Reply

      astaga BUBUR!!!! ini cape lohh di sms sampe 8 part lebih genk gw gila bacanya haha

    • juno 1:45 pm on July 3, 2008 Permalink | Reply

      tgenk, gw add blogroll ya blog lo,, haha
      ah, nulisnya pake bahasa britania terus.. jadi males bacanya,, haha
      kalo nasi udah jadi bubur, pikirin caranya biar bubur itu jadi bubur ayam spesial kali..
      biar dinikmatiny bisa dengan lidah berdansa tanpa rasa sesal atau hilang..

    • smitaprathita 9:56 am on July 28, 2008 Permalink | Reply

      nyet
      blog gue di link doong
      ssaturdaysunday

  • ardityategankputra 8:57 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: goodbye, sleeping disorder   

    sad love letter… 

    did i suffer a sleeping disorder called insomniac?

    or am i just afraid to sleep everynight in my life and find out that you’ll not love me anymore in the morning?

    or maybe, i’m just afraid to find out the answer of my “why” question?

    but i’ve found out the answer, didn’t i?

    that u didn’t love me anymore?

    maybe that explain why i feel so numb and empty right now…

    and maybe that will explain, why did every morning i wake up, tears roll down my face…

    at the first, i’ve said that i don’t want to live without you, but i have no choice left…
    so this means my time to be an idiot is up,

    it is time for me to use my rationality, and move on…

    and put you behind in my past…

    but only for your information, don’t care how hard you’ve broke my heart…
    you’ll be always…
    my forever and ever “future wive”…

    i love you…
    goodbye…

    now, what i need is..

    new life…

    new reason…

    new hope…

    and new love…

     
    • s 5:33 pm on July 20, 2008 Permalink | Reply

      its sooo u. contradictory in every single line. u better off a lil bit more consequent on what uve said bfo dear

  • ardityategankputra 8:53 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: future, past, story   

    The Story Of My Life 

    i am a book…

    a new empty book…

    made from my past…

    designed by my own will of future…

    will be filled by the ink of freedom…

    without no limitation of expression…

    but limited only by my subjectivity…

    waiting to be fulfill…

    with the greatest story in the universe…

    a story with an infinite possibilities…

    a story with an inestimable passion of life…

    “The Story Of My Life”

    and now,,

    Past that have been renewed, i’ll be waiting…

    Present that i’m facing now, i’ll take the consequences…

    Future that have been dreamed, i’ll work hard for it…

     
  • ardityategankputra 8:49 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , warna   

    Doa Pelangi… 

    aku menangis ketika ku menyadari duniaku yang dulu berwarna,
    kini memudar tanpa warna…
    demi dia yang tidak mengerti dan meninggalkanku sendiri di sini…
    aku hanya ingin kembali berwarna…
    kembali merasa tulus tersenyum, atau gembira tertawa…
    …tak adakah yang mau mengerti??
    tolong Tuhan…di masaku beristirahat dan sejenak menjauhi dunia,,
    berikanlah lagi kepadaku, warna-warni indah itu…
    berikanlah lagi kepadaku, pelangi di cakrawala senja itu…
    dan aku akan kembali tersenyum…
    dan kita akan kembali tersenyum…
    bersama…

     
  • ardityategankputra 8:46 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: basic, cinta, excitment, performance   

    Cinta (a theoritical approach of an irrational commonsense concept) 

    Part I

    Mungkin aku bukan orang yang paling ahli ketika membicarakan cinta, aku juga bukan yang paling berpengalaman. Tetapi aku bersyukur karena sudah diizinkan untuk merasakannya, dan bahkan bukan hanya karena itu, aku bersyukur. Aku juga bersyukur karena, tidak hanya aku pernah merasakannya, aku juga diizinkan untuk pernah jatuh ke dalamnya, dan merasakan kehilangan akan keberadaannya. Namun apakah itu cukup bagiku untuk bisa menjelaskan bagaimana rasanya, dan apa itu cinta, yang kurasakan ketika bersama dirimu? Well, itu adalah sebuah pertanyaan yang cukup relatif jawabannya. Akan tetapi aku yakin bahwa itu cukup. Cukup, karena untuk bisa sampai di sini, I must faced a lot of deniying moment, cruciating moment of understanding, and accepting first. Atas dasar-dasar inilah, melalui tulisan ini, aku berusaha untuk menyampaikan pandanganku tentang cinta.

    Cinta adalah sebuah dilusi yang nyata dan rasional. Dia tidak konkrit berbentuk, namun nyata bisa kau rasakan, baik senangnya, maupun sakitnya. Dia seperti udara, tidak dapat kau lihat dan kau rasakan, akan tetapi kau yakin ia ada, dan kau membutuhkannya. Cinta memberikan kekuatan, serta keberanian kepada diri kita, untuk dapat melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikir akan mampu kita lakukan sebelumnya. Untuk dapat mengalahkan ketakutan terbesar kita, apapun bentuknya, di dalam hidup kita. Cinta bagaikan krayon jutaan warna, yang memberikan warna-warni baru di atas kertas polos cerita hidup kita. Cinta memberikan ruang serta kebebasan yang tidak terbatas, untuk berekspresi, untuk dapat menjadi diri kita sendiri, apa adanya. Cinta adalah ketika kita menyadari ketidaksempurnaan orang lain, akan tetapi tetap mencintai orang tersebut, atas kesempurnaan dirinya yang kita temui di dalam ketidaksempurnaannya. Cinta mampu membuatmu melupakan semua masalah di dalam hidupmu untuk sejenak, dan membuatmu bisa menikmati hidupmu, seberat apapun itu. Cinta adalah keindahan di tengah-tengah ketidak teraturan hidupmu.

    Inilah gambaran tentang cinta yang aku miliki, indah bukan? Perasaan seperti inilah yang kudapat, ketika kau sedang berada di dekatku. Kau membuatku menghilangkan kewaspadaanku, seraya ku larut di dalam cintamu. Ya, aku telah jatuh ke dalamnya, ke dalam cinta. Namun, apakah itu salah? Apakah itu baik, ataukah itu buruk? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul di benakku ketika aku ditinggalkan olehmu, oleh cinta, sedangkan aku masih tenggelam di dalamnya.

    Well, untuk pertanyaan pertama, aku bisa dengan tegas menjawab bahwa hal tersebut tidaklah salah. Ini dikarenakan, di dalam hidup manusia, setiap tindakan manusia yang beralasan, tidak pernah salah selama masih bisa dipertanggungjawabkan. Yang salah ialah keadaan, serta ekspektasi dan judgement yang dimiliki oleh, baik diriku sendiri maupun orang lain, yang memiliki kecenderungan ke arah yang tidak realistis. Jelas hal ini membuatku bertanya lagi, apakah saat itu aku punya alasan yang kuat mengapa aku tanpa sadar tiba-tiba memilih untuk jatuh ke dalam cinta? Apakah saat itu, ekspektasi yang kumiliki pada dirimu, terlalu tinggi dan tidak realistis?

    Ternyata jawaban yang kudapat, sungguh amat sangat menyakitkan. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki alasan yang jelas, mengapa aku memilih untuk jatuh ke dalam cinta ini. Aku juga menyadari bahwa, ekspektasi serta harapan yang kumiliki pada dirimu, terlalu tinggi dan tidak realistis. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan jatuh cinta, berubah menjadi sesuatu yang buruk.

    Seperti sudah kukatakan di bagian awal tulisan ini, yakni walaupun berbentuk dilusi, cinta itu nyata dan rasional, sehingga seharusnya dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan di setiap tindakan seseorang, yang mengatasnamakan cinta. Ketika tenggelam di dalamnya, kau bukan tenggelam di dalam cinta, melainkan tenggelam di dalam dilusi yang kau buat dan bentuk sendiri. Dan ketika kau tenggelam di dalamnya, kau akan kehilangan kerasionalitasanmu, dan kau akan kehilangan pedoman untuk bisa menentukan mana hal yang nyata, dengan yang tidak. Hal-hal tersebut di atas seolah-olah menggambarkan bahwa, ketika seseorang jatuh cinta, maka dia akan tertidur, dan menjalani cinta di dalam mimpinya. Ini jelas tidak sesuai dengan quotes yang dilontarkan oleh Dr. Seuss mengenai cinta, yang berbunyi ”when you are falling in love, it must be hard for you to fall asleep. It is because, love makes the reality more beautifull than your dreams..”. Quotes tersebut sesuai dengan face definition yang dimiliki oleh cinta, yakni cinta adalah sesuatu yang nyata keberadaannya melalui perbuatan dan usaha, bukan sekedar angan-angan dan mimpi belaka.

    Semua argumentasi di atas membuatku kembali bertanya-tanya. Apakah berarti dengan ini, kita sama sekali tidak boleh mendekati cinta, apalagi jatuh di dalamnya? Kalau begitu, untuk apa cinta itu ada? Apakah kita membutuhkannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjelaskan bahwa, dibutuhkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai cinta, dari sudut pandang yang lebih rasional dan logis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Miller & Siegel di dalam bukunya, Love: A Psychological Approach, yang berbunyi “Walaupun diyakini oleh banyak ahli psikologi, bahwa cinta ialah sebuah konsep yang sehat di dalam masyarakat, dan dapat mempengaruhi kita (bagian dari masyarakat), suatu keyakinan bukanlah definisi, dan tidak dapat dielakkan bahwa suatu definisi harus mampu dibuktikan”.

    Menurut pandangan Erich Fromm, di dalam bukunya, The Art Of Loving, yang berbunyi ”Manusia adalah seekor hewan yang memiliki masalah. Ditakdirkan untuk memiliki seluruh instink dan kemampuan biologis seekor hewan untuk bertahan hidup, tapi, sebagai tambahannya, manusia juga dianugrahi kemampuan untuk berpikir dan bernalar. Hal inilah yang membuatnya merasa terbagi, dalam keadaan terabaikan secara alamiah dan, sebagai akibatnya, manusia menderita rasa keterasingan dan kesendirian. Dalam usahanya memerangi rasa keterasingan dan kesendiriannya itu, manusia melakukan usaha untuk bisa bersatu dengan sesamanya. Usaha inilah yang menyatukan manusia dengan rasnya, dan usaha inilah yang dapat menggambarkan apa itu cinta.”. Pandangan tersebut, sangat amat menjelaskan mengapa seseorang membutuhkan kehadiran cinta di dalam hidupnya. Bentuk kehadiran cinta tersebut, ialah dengan kehadiran orang lain ke dalam hidup kita, yang dapat menghilangkan rasa kesepian, serta keterasingan kita sebagai manusia.

    Selanjutnya, menurut pendapat para tokoh eksistensialisme, cinta merupakan sebuah tingkatan lanjut akan kenyamanan rasional yang kau dapat, dari sebuah hubungan inter-subjektif yang ideal antara dua manusia. Hanya saja, menurut para tokoh tersebut, sangat sulit bagi manusia untuk dapat mewujudkan hubungan inter-subjektif tersebut. Hal ini dikarenakan toleransi masing-masing orang, untuk dapat menerima subjektifitas orang lain di dalam hidupnya, berbeda-beda. Bahkan, salah seorang filsuf eksistensialisme ternama, yakni J.P Sartre, dengan tegas mengemukakan ketidaksukaannya pada konsep cinta. Dia berpendapat bahwa, ”Hubungan cinta sekalipun, tidak lain merupakan suatu penjelmaan yang akhirnya bersifat sengketa karena kecenderungan objektifikasi yang tidak bisa dihindarkan dalam hubungan seseorang dengan lainnya.”. Di sinilah mengapa, di dalam sebuah hubungan yang didasari oleh rasa cinta, dibutuhkan perbuatan serta usaha yang cukup dan tepat, untuk dapat menyelaraskan, baik subjektifitas, persepsi, maupun ekspektasi yang ada di diri yang satu dengan pasangannya secara berkala tanpa henti.

    Melihat pandangan dari para eksistensialis di atas, di mana dapat disimpulkan bahwa, cinta membutuhkan usaha yang luar biasa. Di mana usaha tersebut harus dilakukan, agar membuat cinta menjadi ada dan menjaga keberadaannya. Seorang psikolog, yakni Robert Sternberg, ternyata juga mengemukakan pendapat yang sama dengan kesimpulan yang kuambil tersebut. Menurut dia, ”Cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat, dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan dan biasanya kisah tersebut mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.”. Sternberg menekankan bahwa, kisah cinta tersebut hanya akan ada apabila terjadi hubungan antara dua orang yang merasakan hal yang sama. Kemudian dia melanjutkan, dengan mengatakan ”We must constantly work at understanding, building, and rebuilding our loving relationships. Relationships are constructions, and they decay over time if they are not maintain and improved. We cannot expect a relationship simply to take care of itself, any more than we can expect that of a building. Rather, we must take responsibility for making our relationships the best they can be.”.

    Dari semua pendapat mengenai cinta yang dilontarkan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan, yakni bagi manusia, cinta merupakan sebuah kebutuhan yang didasari oleh usaha. Kebutuhan untuk merasa memiliki dan dimiliki, untuk dapat merasakan sebuah kenyamanan rasional. Kenyamanan rasional yang dimaksud ialah sebuah kondisi di mana rasionalitasmu dimanjakan, dikarenakan hadirnya orang lain, di mana orang tersebut memiliki visi, ekspektasi, serta kepribadian yang sejalan dan saling mengisi, dengan individu manusia tersebut. Dan demi mendapatkan apa yang kau butuhkan tersebut, ataupun demi menjaganya, kau harus terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Pertanyaan yang timbul berikutnya adalah, apakah aku tahu apa yang sebenarnya kubutuhkan, untuk bisa mencintai?

    Dalam buku Social Psychology karangan Donald Light, terdapat sebuah pendapat yang menarik. Light berpendapat bahwa, dalam mencari seseorang untuk dicintai, manusia akan mencari seseorang yang menurut mereka memiliki kepribadian yang ideal. Yang dimaksud dengan kepribadian ideal di sini ialah, suatu susunan sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh seorang individu, akan tetapi ingin dimiliki oleh individu tersebut, dengan tujuan ingin menjadi individu yang lebih baik. Akan tetapi, agar pendapat tersebut dapat diterapkan secara maksimal oleh seseorang, terdapat syarat yang mutlak. Syarat yang dimaksud ialah, untuk bisa mengetahui kepribadian ideal yang kau inginkan, terlebih dulu kau harus mengetahui kepribadianmu terlebih dahulu. Inilah aplikasi yang memperjelas betapa pentingnya pendapat yang dilontarkan oleh Socrates, yakni ”Know thy self”. Hal tersebut dikarenakan, ketika kita mengetahui sepenuhnya diri kita yang sebenarnya, maka kitapun akan mengetahui apa yang kita butuhkan di dalam hidup kita.

    Sekarang masalah yang muncul berikutnya ialah, terkadang ketika kita sudah mengetahui apa yang kita butuhkan, kita mengalami kesulitan untuk mengkonkritkannya, sehingga terkadang kita bisa merasa mencintai seseorang yang salah. Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka pengetahuan akan konsep Basic, Performance, and Excitment sangat amat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan, konsep tersebut sangat amat membantu menjabarkan secara detail dalam bentuk susunan indikator, akan kepribadian ideal yang kau butuhkan.

    Sekarang, apakah itu konsep Basic, Performance, and Excitment? Yang pertama ialah Basic. Kita dapat menganalogikan Basic layaknya nasi. Nasi, bagi orang Indonesia, merupakan makanan pokok. Ia harus ada, karena apabila ia tidak ada, maka makan apapun kita, kita akan tetap merasa bahwa kita belum makan sama sekali. Apabila diterapkan ke manusia, maka Basic dapat dianalogikan sebagai bentuk fisik yang kau sukai. Selanjutnya ialah Performance. Kita dapat menganalogikan Performance layaknya lauk, di mana setiap kali kita makan, pastinya harus ada pula. Perbedaannya dengan Basic ialah kuantitasnya. Ketika ia jumlahnya hanya sedikit, pasti akan mengesalkan, sedangkan apabila jumlahnya lebih banyak dari biasanya, maka akan meningkatkan kepuasan. Apabila diterapkan ke manusia, maka Performance dapat dianalogikan sebagai kelebihan-kelebihan yang ada di orang itu, baik berbentuk sifat-sifat, maupun kelebihan-kelebihan lainnya, di luar virtue dasar manusia. Yang terakhir ialah Excitment. Kita dapat menganalogikan Excitment sebagai kerupuk. Apabila ada, akan menambah kepuasan, namun apabila tidak ada, maka tidak akan mempengaruhi apa-apa. Apabila diterapkan kepada manusia, maka Excitment dapat dianalogikan sebagai kemampuan orang itu untuk membuat kita senang. Bisa berbentuk hobinya, maupun yang lainnya.

    Hanya dan hanya jika indikator-indikator di atas dipenuhi, maka barulah cinta akan hadir. Inilah alasannya mengapa cinta merupakan sebuah bentuk kebutuhan akan sebuah kenyamanan rasional. Salah apabila ada seseorang yang mengatakan bahwa chemistry comes before rationality, karena pada prakteknya, kau nyaman karena kebutuhan rasionalitasmu di penuhi. Seorang pakar psikologi dari Australi, Patricia Noller, mendukung pendapat yang kusampaikan dengan berkata, ”Love is sustained by belief that love involves acknowledging and accepting differences and weaknesses; that love involves an internal decision to love another person and a long-term commitment to maintain that love; and finally that love is controllable and needs to be nurtured and nourished by the lovers.”. Cinta baru ada ketika kau menjadi nyaman sepenuhnya dikarenakan nilai-nilai kebutuhan yang kau dapatkan dari hasil kognitifmu berhasil dipenuhi. Dipenuhi dengan datangnya seseorang yang memiliki kepribadian yang kau butuhkan. Kepribadian yang bisa membuat hidupmu berwarna. Dan kau mau berkomitmen dan berusaha untuk memperjuangkannya. Ya! Inilah yang aku rasakan ketika aku bertemu denganmu.

    Sedihnya ialah, layaknya semua hal yang ada di hidup ini, cinta juga merupakan sebuah pilihan. Kau berhak memilih, untuk menerimanya dalam hidupmu atau tidak. Bahkan ketika kau memutuskan untuk menerimanya, kau masih akan dihadapkan dengan ratusan pilihan lainnya. Itulah konsekuensi yang kau dapat ketika memilih cinta, ya! Aku memilih cinta dan menghadapi konsekuensinya.

    Ya! Aku memilihmu bukan karena emosi semata. Aku memilihmu, karena kamu berhasil memenuhi indikator yang aku miliki. Aku memilih untuk mencintaimu, seperti yang dulu pernah kukatakan, dan tidak akan pernah berhenti untuk kukatakan. I say this, not because i can’t live without you, because i can. It is because I choose to love you, to live with you in my life, to spend the rest of my days with you. I love you.

    Notes:

    Story of an old Skin Horse and the Velveteen Rabbit…

    “not just to play with, but REALLY loves you, than you become Real.”

    “Does it hurt? Asked the Rabbit.

    “Sometimes,” said the Skin Horse, for he was always truthful. “When you are Real, you don’t mind being hurt.”

    “Does it happen all at once, like being wound up,” he asked, “or bit by bit?”

    “It doesn’t happen all at once,” said the Skin Horse. “You become. It takes a long time. That’s why it doesn’t often happen to who break easily, or have sharp edges, or who have to be carefully kept. Generally, by the time you are Real, most of your hair has been loved off, and your eyes drop out and you get loose in the joints and very shabby. But these things don’t matter at all, because once you are Real you can’t be ugly, except to people who don’t understand.”

     
    • saskhyaauliaprima 9:36 am on June 23, 2008 Permalink | Reply

      eh..itu quote seuss yang dari buku quote gw tercinta ya?haha sialan tulisan gw selanjutnya ada itunya tuh ya nggak apa lah..

      well genk love isn`t a strange thing..dan itu hanya 1 WARNA per 1 ORANG jadi jgn pernah kehilangan banyak warna hanya untuk 1 orang!

      okee nice thought..ayo diskusi lagi..we`ll have much more to talk about, one thing for sure thanks for being a good fellas to involve in many discussions..trimakasihh ga takut berpikir..ga takut diajak mikir..haha ternyata ada yang takut..lho?

    • saskhyaauliaprima 9:40 am on June 23, 2008 Permalink | Reply

      KELUPAAN!!

      chemistry comes before rationality (Oh my i love this sentence!!!) cerdas haha

    • saskhyaauliaprima 9:41 am on June 23, 2008 Permalink | Reply

      maksud gw cerdas lo menyatakan itu salah haha tadi ga ketulis gw bego eh laptop gw yg bego

    • sasyongg haha 5:41 pm on June 27, 2008 Permalink | Reply

      gang geng gong brarti mencari fisik yang kita sukai paling penting dong? kan nasi yang paling vital kan diantara yg lain? kalo menurut gw fisik itu excitement! hehehehheehehhe.. gatau juga ah tapii.. yang jelas cinta bikin uring2 an.. ahahhaha dangdut banget..

    • Insan 4:02 am on February 10, 2009 Permalink | Reply

      ^_^ Tulisan yang mantafff….

  • ardityategankputra 8:42 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: choices, lessons of life   

    Lesson Of Life 

    Life is like a chocolate, life is a journey, life is a wonderful things, etc. Don’t be surprise if there is a lot of expression about life, that is because so many things happen on it. Not only about happiness, there is sorrow too. Well, welcome to the real world. Here is several things in life that can give you a lessons on how to live wisely by facing problems and hard choices, be responsible, dealing with peoples, and by learning from mistakes.

    The first thing that I’ll try to explain here is about how we dealing with all of the problems that passing in our life. But why do we need to have problems or experience troubles in our life? It is because every single problem that we had potentially can change our life. Even the smallest one, problems will be there as a mirror for us to introspecting ourselves. Introspection will open your mind and trained you to see something from other sight of view, not only from our own sight of view.

    The next thing is about choices. Life is matter of choice. Is it about how we dealing with choices especially hard choices which will effect our life especially in the future. Facing it by making a decision on the choices that we had will make us more careful and more calculate in living our life. Doesn’t mean that being spontaneous is not good, but sometimes choices that we had is too hard to bear, and to avoid regret, we have to think more than twice to take the best decision for our life. But the point in facing a choice is not about right or wrong the decision you take, but it is about what you can learn from that decision that you took. Facing choices is also good to trained you to control your fear and making a decision can help you make great changes in your life. Jim Rohn one said “Happiness is not by chance, but by choice.”

    Third thing I’m going to explain now is about responsibility. Just like talking about problems and troubles in your life, not forgetting about choices that we had, responsible is also one part in our life that we cannot avoid. Even hard, we need a responsibility to make us more mature. With responsibility, we learn to be more independent and not depend your life to another person. There would be times when you realize that in this world, you can only count on yourself. Responsibility also trained our good personalities. We also trained to be more strict, dicipline and having a good self control.

    The next thing were going to talk is about dealing with various people. As a social human, it is impossible if we didn’t interact with various character people around us. From normal people, to people that looks “freak” until people that to psychopath to recognize. World is truly full with unpredictable attitude of people, and sometimes we must dealing with people that really unpleasant. Dealing with that kind of people really challenges your patient. But remember, you didn’t need to take responsibility of other people happiness. It is true that you need to respect someone else, but you must act assertive too. “Do right, do your best. Treat other as you want to be treated.”

    The last thing but not least, were going to talk about mistakes that we’ve done in our life. People learn, people change. Why? It is because every mistake that we make in our life was a learning process. There is nothing in this life that can we take as a lesson, especially mistakes that we made, and those lessons will be repeated all the time until we really understand the lessons. Sometimes those mistakes followed with regrets that bringing us down, it is normal, as long as you didn’t dwell to long. So don’t afraid to make a decision and get failed, because every mistake that we make contains a great lesson and an expensive life experience. John Powell once said “The only real mistakes is the one from which we learn nothing.”

    In conclusion, every part of our life actually was really a great lessons and an expensive life experience, as long as you know how to deal with it and know how to get the deep insight in every experience in your life. From now on, after you know how to get notice about how to get lesson in life from our life experience, I hope, as a writer, you can get the true happiness in your life.

     
  • ardityategankputra 8:39 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: memaafkan, menerima, mengerti   

    Mengerti, Menerima, dan Memaafkan 

    Sebelum ini, aku mengira bahwa, saat ini, aku sudah memaafkan dia. Ya! Tapi mengapa, bayangan senyumnya ketika memeluk pria itu, gelak tawanya ketika bersama orang itu, masih terbayang dengan jelas di pikiranku? Menghantuiku, dan mengganggu hidupku? Kupikir selama ini, yang dimaksud dengan memaafkan ialah keadaan di mana kau mengerti apa yang telah terjadi di dalam hidupmu, dan menerima apa adanya, tanpa adanya sedikitpun rasa penyesalan akan apa yang telah terjadi, maupun dendam untuk membalas. Yah, memang itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, memaafkan bukanlah konsep yang tepat untuk definisi tersebut. Bahkan, memaafkan, walaupun memang merupakan konsep tentang sebuah keadaan, untuk dapat mencapainya, dibutuhkan sebuah proses yang amat sangat panjang terlebih dahulu. Ternyata memang benar pendapat Karl Jaspers mengenai kenyataan bahwa hidup adalah sebuah proses perbaikan diri yang tak berujung. Hal itu tersirat pada kata-katanya, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Kalau begitu, apa yang saat ini sedang terjadi pada diriku sebenarnya?

    Sebelum aku mencoba untuk menjawab pertanyaanku sendiri di atas, terlebih dahulu aku akan menceritakan mengapa aku bisa memiliki definisi yang salah mengenai konsep memaafkan. Suatu hari, seorang sahabat pernah menyampaikan jalan pikirannya kepadaku. Ketika itu, dia sedang menasehati diriku yang sedang dirundung masalah. Dia berkata bahwa, ketika seseorang menghadapi sebuah masalah yang berhubungan tentang hubungan antar manusia, maka orang tersebut akan dituntut untuk mampu mengerti, menerima, dan kemudian memaafkan. Dia selanjutnya berkata bahwa, ketika, dan hanya ketika dengan menjalankan ketiganya, orang tersebut akan dapat menarik pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi, dan kemudian orang tersebut dapat berubah menjadi lebih baik dan labih dewasa dalam menyikapi hidupnya. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa, dari berbagai aspek, ketiga hal tersebut benar-benar berbeda satu sama lain. Dia juga menegaskan bahwa untuk mampu menjalankannya, dibutuhkan kesadaran yang cukup tinggi, untuk berpikir rasional dan logis. Hal tersebut ia sampaikan, karena menurut dia, tanpa adanya kesadaran tersebut, maka pengetahuan akan ketiga hal/konsep tersebut akan menjadi sia-sia. Pendapatnya mengenai pentingnya kondisi syarat tersebut sesuai dengan pendapat Rene Descartes, di mana dia adalah seorang tokoh yang sangat dikagumi oleh sahabatku tersebut. Descartes berprinsip ”Cognito Ergo Sum”, yang berarti, ”Aku berpikir, maka dari itu aku ada”.

    Sayangnya, ketika itu, sahabatku lupa untuk menyampaikan definisi yang dimiliki masing-masing oleh ketiga hal tersebut, entah karena dia sedang sakit dan baru saja meminum panadol, atau, entahlah. Well, aku juga tidak tahu, saat itu, entah dia memang tidak sengaja lupa untuk menyampaikannya, ataukah ia memang sengaja membiarkanku untuk berpikir sendiri sesuai dimensi yang aku miliki. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, tingkat urgensi yang dimiliki oleh masalah yang kuhadapi untuk segera kuselesaikan, saat itu sangatlah tinggi. Hal tersebut yang mendorongku untuk segera mengadopsi jalan pikiran yang dimiliki oleh sahabatku tersebut, untuk kemudian dinalar olehku, diadaptasikan dengan masalah yang ada, kemudian dijalankan. Namun, keputusanku untuk menalar ketiga hal tersebut, hanya menggunakan sudut pandang diriku sendiri, membawa masalah di kemudian hari. Masalah tersebut ialah kebingungan akan apa yang sedang kuhadapi saat ini.

    Ketika itu, aku mendefinisikan keadaan mengerti sebagai sebuah keadaan di mana ketika seseorang berhenti berpikir menggunakan hati serta melibatkan emosi ketika menghadapi sebuah masalah. Pada saat itulah, seseorang yang sedang menghadapi masalah memulai proses untuk berpikir sepenuhnya menggunakan rasionalitas yang ia miliki, dengan tujuan untuk mengerti keadaan serta masalah seperti apa yang sebenarnya sedang ia hadapi. Pada fase ini, hasil akhir yang diharapkan ialah, seseorang tersebut mampu menjabarkan dengan jelas dan runtut akan masalah yang sedang ia hadapi. Selain itu, ia juga diharapkan mampu untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan akan pilihan-pilihan yang dapat ia ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sampai di sini, belum terlihat munculnya kesalahan penalaran yang aku alami.

    Selanjutnya, pada momen yang sama, aku mendefinisikan keadaan yang kedua, yakni menerima, sebagai sebuah keadaan di mana seseorang mampu menangkap dengan baik, kenyataan-kenyataan yang diterima dirinya, yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Kenyataan-kenyataan yang telah ditangkap dengan baik tersebut, kemudian diterima dengan berbesar hati dan lapang dada. Kenyataan-kenyataan yang dimaksud di sini contohnya, kekalahan, kesalahan-kesalahan, baik dari pihak lain maupun dari diri sendiri, dan lain macam sebagainya. Pada tahap penalaran inilah, yang apabila dihubungkan dengan kenyataan di mana aku merasa sudah menjalankan dan melewatkan fase ini serta sudah melanjutkan ke fase memaafkan, timbul sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud ialah pertanyaan yang diajukan oleh diriku sendiri di awal tulisan ini.

    Melalui definisi di atas, entah kenapa bagiku belum cukup, untuk bisa menjelaskan apa yang sedang kurasakan saat ini. Maka dimulailah, sekali lagi, perjalananku mencari kebenaran, tepat ketika kukira ini semua sudah berakhir. Menyedihkan memang, akan tetapi, inilah salah satu contoh dari situasi batas penderitaan dan kegelisahan, yang dijelaskan oleh Jaspers, di mana kita, sebagai manusia, harus hadapi dan jalani di dalam hidup. Akan tetapi, ternyata perjalanan tersebut tidak sia-sia. Beruntunglah ketika itu, Eross SO7 dan Okta mau dengan senang hati mendendangkan lagu Gie setiap hari di mobilku, sehingga aku merasa aku tidak berjalan sendirian. Walaupun memang aku sama sekali tidak melewati jalan setapak di malam hari karena yang kulalui setiap hari adalah jalan tol. Akan tetapi tetap, sekali lagi, perjalanan tersebut tidak sia-sia.

    Tepat beberapa hari sebelum aku menulis uraian ini, aku terlibat sebuah perdebatan yang cukup menarik, dengan sahabatku yang dulu mengajarkanku ketiga konsep ini, mengenai definisi menerima. Dia mengatakan bahwa, definisi menerima yang kumiliki terlalu dangkal dan, seperti yang kurasakan sendiri, tidak mampu menjelaskan beberapa hal. Kemudian dia mengatakan, ”Genk, once a wise man said, it takes a very long time to forgiving someone, and that fact are undenieable, atleast for me..”. Kata-katanya sungguh membuatku terhenyak di kursi kantin saat itu. Apakah memang selama itu waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa memaafkan? Apakah itu berarti saat ini aku belum bisa memaafkan siapa-siapa sebenarnya?

    Ternyata, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah, ya, memang selama itu, dan ya, aku memang masih belum, dan belum bisa memaafkan siapa-siapa. Butuh entah berapa puluh jam dibutuhkan bagiku untuk bisa menjawab ini. Entah butuh berapa puluh kali sesi karaokean bervoucher dan berapa ratus kali perlu kulakukan two-way monologue ala Sondrelerche dengan diriku sendiri, hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan ini. But it is worthed, atleast. Dan ternyata, selain mampu menjawab kedua pertanyaan tersebut, kali ini aku mampu menjelaskan apa sedang ku alami saat ini. Dan apa yang sedang aku alami saat ini, berkaitan erat dengan definisi dari konsep menerima yang ideal, atleast ideal untuk diriku sendiri.

    Menerima, berbeda dengan kedua konsep lainnya yang merupakan konsep tentang sebuah keadaan, ternyata adalah konsep tentang sebuah proses. Proses ini sendiri dibagi menjadi tiga fase, di mana nantinya hal ini menjadi alasan mengapa proses menerima merupakan bagian yang paling panjang serta berat dibandingkan kedua konsep lainnya. Fase pertama ialah, ketika kau sudah mengambil pilihan berdasarkan hasil kognitif yang terlebih dulu dilakukan ketika melalui konsep mengerti. Pada fase ini, kau dituntut untuk, selain sudah mengambil pilihan, kau juga harus mengetahui konsekuensi dari pilihan tersebut, menerimanya dan siap untuk menjalankannya.

    Fase selanjutnya ialah fase yang kusebut sebagai masa-masa penyangkalan dan penyadaran. Pada fase ini, kau akan dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan yangg mengecewakan, baik mengenai orang yang menjadi sumber masalah maupun mengenai dirimu sendiri. Dan ketika itu, self-defense mechanism kita sebagai manusia aktif seketika. Bukannya menerima dengan lapang dada, kita malah menyangkalnya dengan, baik meninggikan diri kita sendiri, maupun merendah-rendahkan sumber masalah. Secara psikologis, memang sangat amat berat bagi seseorang untuk bisa menerima sebuah kekecewaan sebagai bagian dari hidupnya. Hal ini dapat berpengaruh besar terhadap konsep diri seseorang, apabila tidak diselesaikan dengan baik. Semua itu dikarenakan, pada saat kita sedang berada di dalam fase ini, semua kenyataan-kenyataan baru yang pahit, mengenai diri kita, baru diterima sekarang. Kenyataan-kenyataan tersebut terkadang merupakan pengukuhan akan ketidaksempurnaan kita, dan hal tersebut kadang kala ditanggapi terlalu dalam oleh sebagian orang, sehingga menurunkan / merusak self-esteem mereka.

    Simpelnya, ”Siapa sih yang seneng dikecewain? Emang ada yang mau terima begitu aja kalau dikecewain?”. Itulah pertanyaan yang wajar terlontar ketika sedang melalui fase ini. Analogi yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan kecewa ini adalah, perasaan seorang petinju yang ditinggal lawannya di pertengahan pertandingan. Menyebalkannya, alasan mengapa sang lawan tersebut pergi ialah karena ia tertarik akan ajakan penonton yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertandingan tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi ialah, yang pertama kali mengajak bertanding ialah sang lawan! Bisa bayangkan bagaimana perasaan sang petinju tersebut? Sama seperti perasaan Irwansyah, ketika Acha Septriasa memutuskan untuk tidak berpacaran lagi dengannya, hanya karena Acha akan berkuliah di Malaysia. Perasaan seperti inilah yang kita rasakan, dan umumnya kita sangkal, ketika sedang menghadapi fase kedua dari proses menerima.

    Fase yang terakhir ialah fase membiasakan diri. Pada fase ini, sudah tidak ada lagi penyangkalan-penyangkalan yang tersisa. Kita dituntut untuk sudah mampu menerima semua kenyataan yang menyakitkan tersebut dengan lapang dada. Tugas kita pada fase ini adalah membiasakan diri kita untuk hidup dengan kenyataan-kenyataan tersebut. Memang terlihat dan terdengar sangat mudah, akan tetapi, pada kenyataannya sama sekali tidak mudah. Dibutuhkan hati yang amat besar, serta waktu yang cukup panjang bagi seseorang untuk dapat membiasakan diri menerima kenyataan yang ada. Itulah yang sedang kualami saat ini. Inilah mengapa, bayangan-bayangan mengenai ’dia’ kadang kala masih suka menyakitkan. Akan tetapi, apa yang bisa kulakukan? Toh tidak ada. Yang bisa kulakukan hanyalah menerimanya dengan lapang dada, dan membiasakan diriku sendiri dengan kenyataan bahwa, walaupun sebegitu besar rasa sayang dan cintaku padanya, namun ’dia’ sudah bukan milikku lagi. Memang berat, akan tetapi, menurut buku ”Ayat-ayat Cinta”, sabar, ikhlas, dan tawakkal merupakan kunci untuk bisa melewati fase ini. Atleast, buku dan filmnya laku terjual kan?

    Well, akhir dari fase ketiga, ialah saat kita sudah bisa memaafkan. Saat kita sudah mampu tertawa membicarakan masalah ini, di hadapan orangnya langsung, tanpa ada rasa yang masih terbawa. Saat kita sudah mampu melihat mata orang tersebut, tanpa ada dendam yang tersisa. Saat di mana ketika kita sudah mau, dan bisa untuk melupakan kejadian dan orang di masa lalu. Saat ketika kita sudah berhenti memilih masa lalu sebagai dasar alasan, ataupun tujuan dari pengambilan keputusan hidup kita di masa kini. Saat di mana ketika kita memandang orang tersebut dan tersenyum, dan berterima kasih kepadanya akan pelajaran hidup terbaik yang pernah ia berikan kepada kita. Saat-saat seperti itulah, yang artinya, kau sudah memaafkan seseorang. Akankah lama bagiku untuk bisa merasakan hal tersebut? Berdoa saja semoga tidak.

    Yah, saat ini, sesuai pepatah lama, ”nasi sudah keburu menjadi bubur”. Ikhlaskan saja, dan habiskanlah buburnya. Lebih baik begitu, dari pada harus kelaparan atau malah menghamburkan uang hanya untuk membeli nasi lagi di warung Padang, bukan begitu? Toh seiring waktu berjalan, aku pasti bisa memaafkan ’dia’, dan siapa tahu, aku bisa menjadi seorang penggemar bubur. Dan bisa berkata, apapun bentuk masakannya, yang penting buburnya Bung!

     
    • saskhyaauliaprima 4:32 pm on June 25, 2008 Permalink | Reply

      sahabatmu yang mana genk?hahahaha najis pura-pura nggak tau gw..baca dong postingan gw yang journey of my thoughts to forgive something..ada di bulan may..biar lo tau sahabat lo siapa haha!! (anjrit ga penting bgt gw komen sembari menelfon lo haha)

      ayo genk diskusi yukk

  • ardityategankputra 7:56 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: heartbreak, life, whisper   

    a question about ‘how’ 

    isn’t how can you, but how will you continue your life,
    when you realize that, you can’t turn back time..
    after facing the fact that there is a few question that can’t be answered,
    few heartbreak and wound that can’t be healed..
    no, i wont give up now, not yet,,
    and i wont let this be over, ever!
    but i wouldn’t say “don’t cry..”,
    because not all tears are mean..
    and i wouldn’t say “don’t hope..”,
    because sometimes, whispers seem can be heard louder than a scream…
    understand, embrace it, and get used to it…
    than you can continue your life…
    and forgive…

     
  • ardityategankputra 7:54 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: kefaktaan, , masa kini, masa lalu, maut   

    Kefaktaan Dalam Hidup 

    Life’s Part II

    (Things you can’t ignore…)

    Malam ini, aku menyadari sebuah fakta baru di hidup ini. Mungkin bukan hal yang baru, hanya saja bagiku, baru malam ini aku mengerti apa yang dimaksud oleh fakta yang kudapat tersebut.

    Sartre menyebut ini kefaktaan, sedangkan Jaspers menyebut hal yang akan kubicarakan ini dengan istilah situasi batas. Bagiku, yang manapun sama saja, seperti dia yang pernah mengatakan ”languange is only a matter of perception, right?”. Akan tetapi, untuk lebih mudah menjelaskannya, aku akan menggunakan istilah yang digunakan oleh Sartre, yakni kefaktaan.

    Kefaktaan adalah bagian dari hidup manusia. Ia adalah kejadian-kejadian, faktor-faktor, ataupun hal-hal yang pasti ada di dalam perjalanan hidup manusia. Mutlak keberadaannya, dan tidak dapat disangkal. Menurut Jaspers, manusia memiliki keterikatan dengan situasi batas/kefaktaan yang ada di dalam hidup. Menurut dia, manusia dapat menghindarinya, akan tetapi tidak akan bisa menghilangkannya. Sekali manusia menghindarinya, dia akan menemui kefaktaan yang lain. Jaspers berkata bahwa ”manusia adalah manusia-dalam-situasi.”.

    Sama halnya dengan Jaspers, Sartre juga memasukkan pikirannya demi agar kita mengerti apa yang dimaksud dengan kefaktaan tersebut. Bagi Sartre, manusia dapat melupakan kefaktaan sebentar, ataupun mengolahnya, bahkan memanipulasinya, namun tidak mungkin kefaktaan tersebut ditiadakan. Kefaktaan, di dalam hidup manusia, menurut Sartre, merupakan faktor yang memberi struktur pada manusia, akan tetapi, manusia juga memberi struktur pada kefaktaan itu sendiri.

    Bagiku, ia bukan penghalang kebebasan, akan tetapi, berjalan saling beriringan. Kefaktaan ada untuk kebebasan, begitu pula sebaliknya. Kefaktaan ada untuk kebebasan, dalam artian, apabila tidak ada kefaktaan dalam hidup manusia, maka menghilanglah alasan mengapa manusia memiliki kebebasan. Sedangkan, kefaktaan tanpa kebebasan, layaknya seorang manusia yang berdiri di lorong yang gelap. Ia tahu bahwa ia harus mencari cahaya, dengan cara menyusuri lorong tersebut, akan tetapi ia tidak berani bergerak kemana pun. Manusia seperti itu, menurutku entah ia kehilangan alasan mengapa ia harus hidup, atau malah ia memang tidak memilikinya. Inilah menurut pandanganku, apa itu kefaktaan. Pertanyaan yang sekarang timbul ialah, apa saja yang termasuk kefaktaan, yang ada di dalam hidup manusia?

    Setelah membaca pendapat-pendapat Sartre serta Jaspers, aku berhasil menarik sebuah kesimpulan mengenai apa saja kefaktaan yang ada. Terdapat tiga kefaktaan utama yang terjadi di dalam hidup manusia. Yang pertama ialah masa lalu. Masa lalu ialah kejadian-kejadian, hal-hal, ataupun pilihan-pilihan yang sudah lewat kita ambil, dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Sartre, masa lalu dapat kita lupakan sejenak, ataupun kita manipulasi kemudian kita susun kembali dalam bentuk cerita menurut kehendak kita. Namun kita tidak mungkin akan dapat meniadakan masa lalu kita sendiri, sebab dari apa yang lampau itu, menjadilah kita yang sebagaimana sekarang. Akan tetapi menurutku, sependapat dengan Sartre, salah besar apabila ada yang menganggap masa lalu adalah faktor yang paling menentukan hidup manusia. Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama. Akan tetapi itu semua kembali pada pilihan manusianya sendiri. Manusia bebas memilih, untuk membiarkan masa lalunya mempengaruhi apa yang menjadi hidupnya saat ini, ataupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Berdyaev, yakni masa lalu hanya berarti di dalam hidup manusia, hanya dan hanya jika manusia memilihnya.

    Selanjutnya, masa lalu dibagi menjadi dua jenis kefaktaan. Yang pertama ialah masa lalu positif, contohnya keberhasilan, prestasi, dll. Di dalam menghadapi jenis kefaktaan yang pertama ini, manusia harus selalu diingatkan bahwa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Seperti yang diungkapkan oleh Jaspers, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Pengingatan tersebut menjadi penting, dikarenakan manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi sombong. Dengan menjadi sombong, manusia kehilangan arah dan tujuannya di dalam hidup, dan kehilangan kebebasannya dikarenakan hanya berpegang teguh hanya pada keberhasilannya yang sudah lewat. Memandang tentang kecenderungan manusia untuk menjadi sombong, Nietzsche menekankan ”Will nothing beyond your capacity; there is a wicked falseness who will beyond their capacity.”.

    Jenis kefaktaan yang kedua ialah masa lalu negatif, yakni kekecewaan, kehilangan, rasa bersalah, dan rasa malu. Di sinilah diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai konsep mengerti, menerima, dan memaafkan, dalam menghadapi jenis kefaktaan yang kedua ini. Hal tersebut sangat penting diperlukan agar manusia dapat dengan tepat menerima insight atau pelajaran yang ada tersirat di dalam kefaktaan yang terjadi. Dengan menerima insight dan pelajaran yang tepat, maka diharapkan manusia dapat membentuk diri menjadi lebih baik, demi masa depannya sendiri.

    Selanjutnya, kefaktaan utama yang berikutnya ialah masa kini. Masa kini adalah keadaan atau kenyataan yang sedang dialami atau dijalani manusia pada saat ini. Terdapat dua kenyataan yang merupakan kefaktaan yang terjadi di hidup manusia di masa kini. Yang pertama ialah konsekuensi dan tanggung jawab. Yang dimaksud dengan hal tersebut ialah, manusia akan, pasti, dan harus menjalani konsekuensi serta tanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya di masa lalu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sartre, yakni ”Man is nothing else but what he makes of himself..where I am responsible for myself and for anyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, i choose man.”. Ini berarti, dengan menjalani konsekuensi serta tanggung jawab kita atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan sebelumnya, barulah kita dapat menyebut diri kita manusia sepenuhnya.

    Kenyataan berikutnya, yang mana merupakan kefaktaan masa kini, ialah paradoks pilihan. Dalam menghadapi hidup, mengikuti pendapat Berdyaev, manusia akan selalu dihadapkan pada pilihan, di mana pilihan tersebut berbentuk paradoks. Yang dimaksud paradoks ialah, keadaan di mana terjadi persengketaan atau konflik antara dua segi atau sudut pandang yang berlawanan di dalam satu kesatuan unsur. Unsur yang dimaksud di sini ialah manusia, sedangkan konflik yang terjadi ialah antara pilihan yang akan, dan harus diambil oleh manusia tersebut. Di sini Berdyaev berpendapat, ”…a self-contradictory and paradoxical being combining opposite within himself.”. Kenyataan yang terjadi di hidup manusia, di mana hal tersebut menjadi paradoks utama di dalam hidup seorang manusia ialah, keberadaan manusia dengan tugas utamanya untuk menjadi individu subjektif yang bebas dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia tersebut hidup di dunia sosial. Sebelumnya, Kierkegaard mengemukakan bahwa “…becoming subjective is the task proposed to every human being.”. Jaspers berpendapat mengenai hal ini, yakni, ketika kita menyadari bahwa manusia memiliki tugas utama yang berlawanan dengan dunia tempat ia hidupnya, maka seketika tugas utama manusia berubah. Saat ini menurutku, menambahkan pendapat Jaspers, tugas utama yang sedang dihadapi manusia ialah, bagaimana caranya manusia bisa menempatkan dirinya, di dalam kehidupan bermasyarakat yang sosial, sebagai individu subjektif yang bebas. Inilah mengapa Jaspers berpendapat ”…freedom is never real as the liberty of individuals alone. Every man is free to the extent others are.”. Di sinilah mengapa manusia membutuhkan kemampuan inter-personal relationship yang baik. Kemampuan tersebut, apabila diaplikasikan dengan baik, maka sedikit banyak mampu menjawab tugas utama yang merupakan kefaktaan, yang sedang dihadapi manusia saat ini.

    Kefaktaan utama terakhir yang dimiliki oleh manusia ialah maut. Maut merupakan kepastian yang paling mantap di dalam hidup manusia, dan tidak terhindarkan. Ia adalah akhir dari hidup semua manusia. Jaspers berpendapat bahwa, maut melekat pada hidup seluruh manusia sebagai suatu kefaktaan yang tidak bisa dielakkan. Sedangkan Sartre menilai maut sebagai akhir eksistensi seorang manusia. Ketika maut datang, menurut Sartre, maka yang tersisa pada manusia ialah esensi-nya. Sartre melanjutkan, dengan kata lain, maut adalah sesuatu yang berada di luar eksistensi, dikarenakan orang lainlah yang memberikan arti pada kematian kita masing-masing, bukan kita sendiri. Hal inilah yang dimaksud dengan esensi seorang manusia, yakni arti yang dimiliki oleh seorang manusia, yang merupakan pemberian orang lain, hanya dan hanya ketika maut datang pada manusia tersebut. Dapat disimpulkan bahwa, maut sebagai kefaktaan memang merupakan batas terhadap kebebasan manusia, akan tetapi, batas tersebut berada di luar eksistensi kita sebagai manusia, sehingga maut baru berarti, dan mempengaruhi manusia, hanya dan hanya bila ia sudah datang menghampiri. Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya.

    Inilah kefaktaan-kefaktaan yang baru kumengerti malam ini, yang menjadi beban pikiranku beberapa malam ini. Inilah tantangan yang menguji kecerdasan serta kesubjektifitasan individu yang bebas. Dengan mampu melalui tantangan-tantangan inilah, maka kita baru bisa benar-benar disebut sebagai manusia seutuhnya.

     
    • dheaaaa 9:18 am on June 24, 2008 Permalink | Reply

      I love this part :
      “Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya. ”

      trus trus kalo yang ini :

      “Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama.”

      menurut gue pribadi, tergantung masing-masing orangnya juga sih dit, bener banget kata Berdayev, tergantung gimana seseorang memaknai masa lalu-nya sendiri. ntar kalo lo udah blajar keprib lo akan lihat deh, tokoh-tokoh seperti Freud & Jung itu orang2 yang menganalisa motif dan kepribadian seseorang berdasarkan masa lalu mereka, disebut juga retrospective. Sedangkan orang-orang seperti Adler itu memandang kepribadian seseorang justru dari goals yang ingin mereka capai di masa depan, disebut juga AAH GUE LUPA DISEBUT APA. hihi. intinya sama aja sih, balik ke diri masing2 aja. :)

      sekian.

      - D! -

  • ardityategankputra 7:51 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , waking life   

    Waking Life 

    Life PART 1

    Siapakah Manusia Menurut Film Ini?

    (a movie and books reviews..)

    Menurutku, terutama setelah menyaksikan film Waking Life tersebut, manusia dilahirkan dengan banyak kelebihan. Tuhan memberikan kepada manusia, tidak hanya sekedar sebuah sistem otak yang hanya dapat mempersepsi layaknya otak binatang. Tuhan memberikan sebuah sistem otak yang sangat kompleks dengan kemampuan khasnya, yakni kemampuan menginterpretasikan. Kemampuan menginterpretasikan yang dimiliki manusia inilah yang disebut dengan sistem simbolik. Sistem ini pulalah yang secara signifikan, membedakan manusia dengan hewan. Dengan menggunakan sistem inilah, manusia dapat berpikir, mencipta, berkreasi, atau yang paling dasar, yakni untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kemampuan manusia ini pulalah, sejarah panjang mengenai evolusi manusia dapat terjadi.

    Manusia menyadari bahwa, dengan kemampuan simbolik yang ia miliki, ia ternyata tidak memiliki satupun batasan di dalam kemampuannya untuk berpikir dan bernalar. Ditambah lagi, seperti yang telah disebutkan di dalam film, bahwa ketika seorang manusia lahir, Tuhan men-download pengetahuan-pengetahuan yang telah terlebih dahulu didapat oleh para pendahulu manusia. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa, memang manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar yang tidak terbatas. Seperti yang juga disebutkan di film, bahwa manusia adalah mikrokosmos, yakni dunia mind yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas. Hal-hal yang telah disebutkan di atas kini membawa manusia kepada realitas kodrat yang ia miliki.

    Selanjutnya, dengan adanya kesadaran manusia akan kemampuan simbolik yang ia miliki, serta ketiadaan batas pada kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar, dia dihadapkan pada suatu realitas kebebasan. Kebebasan yang dimaksud di sini ialah kebebasan manusia untuk memilih dan berkehendak dalam menentukan sendiri jalan hidup yang ia ingin tempuh. Sudah merupakan tugas mendasar seorang manusia, yakni untuk menulis cerita kehidupan dia sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Sartre yang mengatakan bahwa hidup manusia merupakan hasil dari kumpulan rencana serta tindakan yang dia pilih dan kehendaki secara pribadi. Nietzsche juga berpendapat bahwa, dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia harus mengisinya dengan tujuan, harapan, dan cita-cita yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas, sesuai dengan keinginan kita sendiri.

    Kesadaran akan adanya kodrat kebebasan untuk memilih dan berkehendak pada diri manusia sangatlah penting. Hal ini dikarenakan, menurut Nietzsche, kehidupan tanpa adanya kebebasan untuk memilih dan berkehendak merupakan kehidupan yang tak bermakna, atau sama dengan mati. Akan tetapi, Nietzsche pun mengingatkan betapa pentingnya bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri serta batas-batas kemampuan fisik yang dia miliki. Hal ini dikarenakan, salah satu batasan dari kebebasan yang manusia miliki ialah manusia itu sendiri. Selain itu, dengan mengenali diri sendiri, diharapkan antara kehendak dan pilihan seorang manusia, dengan aplikasi perbuatannya, terdapat hubungan relevansi yang logis. Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang di sampaikan oleh Socrates, yakni ”Know thy self”.

    Akan tetapi, kebebasan yang manusia miliki harus didahului dengan sebuah penalaran akan tujuan dan diikuti dengan tanggung jawab. Menurut Jaspers, di dalam mengisi kebebasannya, manusia harus memiliki penalaran akan tujuan, atau alasan atas setiap hasil pikirannya maupun perbuatannya. Jaspers berpendapat bahwa dengan memiliki penalaran akan tujuannya, manusia akan dapat memprediksi dirinya di masa depan. Selanjutnya, manusia juga memiliki kewajiban untuk mempertanggung jawabkan segala hasil pikirannya maupun perbuatannya dikala mengisi kebebasan yang dia miliki. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Sartre, yakni bahwa setiap keputusan yang diambil oleh seorang manusia, ditujukan oleh manusia itu sendiri. Sehingga apabila nantinya terjadi kesalahan, manusia itu sendirilah yang harus memperbaikinya, dan dia tidak boleh menyalahkan orang lain.

    Setelah kita membahas tentang konsep kebebasan berkehendak yang dimiliki oleh manusia, muncullah sebuah pertanyaan yang dilontarkan pada film ini. Bagaimana caranya manusia bisa memiliki kebebasan yang absolut apabila Tuhan sudah mengetahui terlebih dahulu tentang apa saja yang akan manusia lakukan? Pertanyaan ini sudah menjadi masalah besar bagi para filsuf-filsuf ternama, bahkan sejak sebelum masa Aristoteles. Apakah sebenarnya saat ini manusia berada di dalam sebuah sistem yang sudah terlebih dahulu dirancang dan diatur oleh Tuhan? Ataukah, Tuhan hanya bertugas sebagai pengawas, dan membiarkan manusia, sebagai ciptaannya, untuk bebas menentukan jalan hidupnya sendiri? Belum ada satu orang pun filsuf yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, tanpa mengesampingkan masalah ini, manusia harus tetap menjalankan kodrat kebebasannya, baik untuk memilih dan berkehendak. Karena hanya dengan menjalankan kodratnya inilah, seseorang dapat merasakan hidup sebagai seorang manusia.

    Selain terdapat paradoks mengenai konsep kebebasan yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa pengekang lagi terhadap konsep kebebasan yang manusia miliki. Faktor-faktor tersebut berasal dari luar manusia, terutama berasal dari masyarakat dan sosial. Melencengnya fungsi pers, norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat, dan yang terakhir ialah usaha penyamarataan nilai individu seseorang di mata masyarakat dan pemerintah. Hal-hal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dapat menjadi halangan bagi manusia untuk menjalani kebebasan yang seutuh-utuhnya.

    Pers berubah, seperti yang telah di sebutkan di film, dari yang awalnya merupakan sarana masyarakat untuk mengetahui kejadian yang terjadi di seluruh belahan dunia, berubah menjadi alat doktrinisasi pemerintah. Norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat bermula dari sebuah niatan yang baik, yakni untuk menjaga stabilitas di masyarakat. Akan tetapi, pada praktiknya, seperti yang telah disebutkan di film, proses penegakan norma dan nilai yang ada di masyarakat telah dimonopoli oleh grup-grup dan kelas-kelas yang berkuasa di masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh grup-grup atau kelas-kelas yang berkuasa tersebut.

    Faktor-faktor pengekang yang telah disebutkan di ataslah yang membuat manusia terhambat kebebasannya. Faktor-faktor tersebut membuat manusia menjalani hidup mereka, tanpa sadar, menjadi monoton dan tanpa tujuan. Manusia yang telah direnggut kesadarannya akan kebebasan yang ia miliki, menurut film, tiada bedanya dengan sebuah robot. Akan tetapi, setelah mempelajari film serta buku-buku yang ada dengan seksama, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan. Kunci bagi manusia untuk dapat tetap menjalani kebebasan yang ia miliki di tengah-tengah seluruh keterbatasan yang ia hadapi ialah kemampuan self-conscious dan self-awareness. Manusia harus secara sadar, menyadari kebebasan yang ia miliki di dalam hidupnya, dan menjalaninya dengan kemampuan berpikir dan bernalar yang ia miliki. Manusia juga harus mampu menggabungkan, secara sadar dan bebas, kemampuan rasionalitas yang ia miliki, dengan hidupnya yang memiliki kemungkinan harapan dan cita-cita yang tidak terbatas.

    Setelah kita menganalis manusia, dari sudut pandang yang terdapat di dalam film, literatur-literatur filsafat, serta penalaran yang aku miliki, sampailah kita pada sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan pada awal essai ini. Siapakah manusia menurut film ini? Manusia, dapat disebut sebagai manusia, itu berarti ia telah mampu menyadari bahwa, sebenarnya dia memiliki kodrat yang mutlak ia miliki yang berbentuk kebebasan untuk memilih dan berkehendak. Kebebasan dalam menentukan gambaran kepribadian seperti apa yang ia ingin tunjukkan, serta menentukan jalan hidup seperti apa yang ia ingin jalani. Sebagai manusia, itu berarti ia juga telah mampu menjalani kehidupan yang penuh dengan harapan, kemungkinan, dan cita-cita yang tak terbatas, di mana secara sadar dan bebas ia kehendaki, dengan penuh pertimbangan dan rasionalitas, serta penuh dengan semangat hidup. Dialah manusia itu.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel