Recent Updates Page 2 RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • ardityategankputra 8:42 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: choices, lessons of life   

    Lesson Of Life 

    Life is like a chocolate, life is a journey, life is a wonderful things, etc. Don’t be surprise if there is a lot of expression about life, that is because so many things happen on it. Not only about happiness, there is sorrow too. Well, welcome to the real world. Here is several things in life that can give you a lessons on how to live wisely by facing problems and hard choices, be responsible, dealing with peoples, and by learning from mistakes.

    The first thing that I’ll try to explain here is about how we dealing with all of the problems that passing in our life. But why do we need to have problems or experience troubles in our life? It is because every single problem that we had potentially can change our life. Even the smallest one, problems will be there as a mirror for us to introspecting ourselves. Introspection will open your mind and trained you to see something from other sight of view, not only from our own sight of view.

    The next thing is about choices. Life is matter of choice. Is it about how we dealing with choices especially hard choices which will effect our life especially in the future. Facing it by making a decision on the choices that we had will make us more careful and more calculate in living our life. Doesn’t mean that being spontaneous is not good, but sometimes choices that we had is too hard to bear, and to avoid regret, we have to think more than twice to take the best decision for our life. But the point in facing a choice is not about right or wrong the decision you take, but it is about what you can learn from that decision that you took. Facing choices is also good to trained you to control your fear and making a decision can help you make great changes in your life. Jim Rohn one said “Happiness is not by chance, but by choice.”

    Third thing I’m going to explain now is about responsibility. Just like talking about problems and troubles in your life, not forgetting about choices that we had, responsible is also one part in our life that we cannot avoid. Even hard, we need a responsibility to make us more mature. With responsibility, we learn to be more independent and not depend your life to another person. There would be times when you realize that in this world, you can only count on yourself. Responsibility also trained our good personalities. We also trained to be more strict, dicipline and having a good self control.

    The next thing were going to talk is about dealing with various people. As a social human, it is impossible if we didn’t interact with various character people around us. From normal people, to people that looks “freak” until people that to psychopath to recognize. World is truly full with unpredictable attitude of people, and sometimes we must dealing with people that really unpleasant. Dealing with that kind of people really challenges your patient. But remember, you didn’t need to take responsibility of other people happiness. It is true that you need to respect someone else, but you must act assertive too. “Do right, do your best. Treat other as you want to be treated.”

    The last thing but not least, were going to talk about mistakes that we’ve done in our life. People learn, people change. Why? It is because every mistake that we make in our life was a learning process. There is nothing in this life that can we take as a lesson, especially mistakes that we made, and those lessons will be repeated all the time until we really understand the lessons. Sometimes those mistakes followed with regrets that bringing us down, it is normal, as long as you didn’t dwell to long. So don’t afraid to make a decision and get failed, because every mistake that we make contains a great lesson and an expensive life experience. John Powell once said “The only real mistakes is the one from which we learn nothing.”

    In conclusion, every part of our life actually was really a great lessons and an expensive life experience, as long as you know how to deal with it and know how to get the deep insight in every experience in your life. From now on, after you know how to get notice about how to get lesson in life from our life experience, I hope, as a writer, you can get the true happiness in your life.

     
  • ardityategankputra 8:39 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: memaafkan, menerima, mengerti   

    Mengerti, Menerima, dan Memaafkan 

    Sebelum ini, aku mengira bahwa, saat ini, aku sudah memaafkan dia. Ya! Tapi mengapa, bayangan senyumnya ketika memeluk pria itu, gelak tawanya ketika bersama orang itu, masih terbayang dengan jelas di pikiranku? Menghantuiku, dan mengganggu hidupku? Kupikir selama ini, yang dimaksud dengan memaafkan ialah keadaan di mana kau mengerti apa yang telah terjadi di dalam hidupmu, dan menerima apa adanya, tanpa adanya sedikitpun rasa penyesalan akan apa yang telah terjadi, maupun dendam untuk membalas. Yah, memang itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, memaafkan bukanlah konsep yang tepat untuk definisi tersebut. Bahkan, memaafkan, walaupun memang merupakan konsep tentang sebuah keadaan, untuk dapat mencapainya, dibutuhkan sebuah proses yang amat sangat panjang terlebih dahulu. Ternyata memang benar pendapat Karl Jaspers mengenai kenyataan bahwa hidup adalah sebuah proses perbaikan diri yang tak berujung. Hal itu tersirat pada kata-katanya, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Kalau begitu, apa yang saat ini sedang terjadi pada diriku sebenarnya?

    Sebelum aku mencoba untuk menjawab pertanyaanku sendiri di atas, terlebih dahulu aku akan menceritakan mengapa aku bisa memiliki definisi yang salah mengenai konsep memaafkan. Suatu hari, seorang sahabat pernah menyampaikan jalan pikirannya kepadaku. Ketika itu, dia sedang menasehati diriku yang sedang dirundung masalah. Dia berkata bahwa, ketika seseorang menghadapi sebuah masalah yang berhubungan tentang hubungan antar manusia, maka orang tersebut akan dituntut untuk mampu mengerti, menerima, dan kemudian memaafkan. Dia selanjutnya berkata bahwa, ketika, dan hanya ketika dengan menjalankan ketiganya, orang tersebut akan dapat menarik pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi, dan kemudian orang tersebut dapat berubah menjadi lebih baik dan labih dewasa dalam menyikapi hidupnya. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa, dari berbagai aspek, ketiga hal tersebut benar-benar berbeda satu sama lain. Dia juga menegaskan bahwa untuk mampu menjalankannya, dibutuhkan kesadaran yang cukup tinggi, untuk berpikir rasional dan logis. Hal tersebut ia sampaikan, karena menurut dia, tanpa adanya kesadaran tersebut, maka pengetahuan akan ketiga hal/konsep tersebut akan menjadi sia-sia. Pendapatnya mengenai pentingnya kondisi syarat tersebut sesuai dengan pendapat Rene Descartes, di mana dia adalah seorang tokoh yang sangat dikagumi oleh sahabatku tersebut. Descartes berprinsip ”Cognito Ergo Sum”, yang berarti, ”Aku berpikir, maka dari itu aku ada”.

    Sayangnya, ketika itu, sahabatku lupa untuk menyampaikan definisi yang dimiliki masing-masing oleh ketiga hal tersebut, entah karena dia sedang sakit dan baru saja meminum panadol, atau, entahlah. Well, aku juga tidak tahu, saat itu, entah dia memang tidak sengaja lupa untuk menyampaikannya, ataukah ia memang sengaja membiarkanku untuk berpikir sendiri sesuai dimensi yang aku miliki. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, tingkat urgensi yang dimiliki oleh masalah yang kuhadapi untuk segera kuselesaikan, saat itu sangatlah tinggi. Hal tersebut yang mendorongku untuk segera mengadopsi jalan pikiran yang dimiliki oleh sahabatku tersebut, untuk kemudian dinalar olehku, diadaptasikan dengan masalah yang ada, kemudian dijalankan. Namun, keputusanku untuk menalar ketiga hal tersebut, hanya menggunakan sudut pandang diriku sendiri, membawa masalah di kemudian hari. Masalah tersebut ialah kebingungan akan apa yang sedang kuhadapi saat ini.

    Ketika itu, aku mendefinisikan keadaan mengerti sebagai sebuah keadaan di mana ketika seseorang berhenti berpikir menggunakan hati serta melibatkan emosi ketika menghadapi sebuah masalah. Pada saat itulah, seseorang yang sedang menghadapi masalah memulai proses untuk berpikir sepenuhnya menggunakan rasionalitas yang ia miliki, dengan tujuan untuk mengerti keadaan serta masalah seperti apa yang sebenarnya sedang ia hadapi. Pada fase ini, hasil akhir yang diharapkan ialah, seseorang tersebut mampu menjabarkan dengan jelas dan runtut akan masalah yang sedang ia hadapi. Selain itu, ia juga diharapkan mampu untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan akan pilihan-pilihan yang dapat ia ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sampai di sini, belum terlihat munculnya kesalahan penalaran yang aku alami.

    Selanjutnya, pada momen yang sama, aku mendefinisikan keadaan yang kedua, yakni menerima, sebagai sebuah keadaan di mana seseorang mampu menangkap dengan baik, kenyataan-kenyataan yang diterima dirinya, yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Kenyataan-kenyataan yang telah ditangkap dengan baik tersebut, kemudian diterima dengan berbesar hati dan lapang dada. Kenyataan-kenyataan yang dimaksud di sini contohnya, kekalahan, kesalahan-kesalahan, baik dari pihak lain maupun dari diri sendiri, dan lain macam sebagainya. Pada tahap penalaran inilah, yang apabila dihubungkan dengan kenyataan di mana aku merasa sudah menjalankan dan melewatkan fase ini serta sudah melanjutkan ke fase memaafkan, timbul sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud ialah pertanyaan yang diajukan oleh diriku sendiri di awal tulisan ini.

    Melalui definisi di atas, entah kenapa bagiku belum cukup, untuk bisa menjelaskan apa yang sedang kurasakan saat ini. Maka dimulailah, sekali lagi, perjalananku mencari kebenaran, tepat ketika kukira ini semua sudah berakhir. Menyedihkan memang, akan tetapi, inilah salah satu contoh dari situasi batas penderitaan dan kegelisahan, yang dijelaskan oleh Jaspers, di mana kita, sebagai manusia, harus hadapi dan jalani di dalam hidup. Akan tetapi, ternyata perjalanan tersebut tidak sia-sia. Beruntunglah ketika itu, Eross SO7 dan Okta mau dengan senang hati mendendangkan lagu Gie setiap hari di mobilku, sehingga aku merasa aku tidak berjalan sendirian. Walaupun memang aku sama sekali tidak melewati jalan setapak di malam hari karena yang kulalui setiap hari adalah jalan tol. Akan tetapi tetap, sekali lagi, perjalanan tersebut tidak sia-sia.

    Tepat beberapa hari sebelum aku menulis uraian ini, aku terlibat sebuah perdebatan yang cukup menarik, dengan sahabatku yang dulu mengajarkanku ketiga konsep ini, mengenai definisi menerima. Dia mengatakan bahwa, definisi menerima yang kumiliki terlalu dangkal dan, seperti yang kurasakan sendiri, tidak mampu menjelaskan beberapa hal. Kemudian dia mengatakan, ”Genk, once a wise man said, it takes a very long time to forgiving someone, and that fact are undenieable, atleast for me..”. Kata-katanya sungguh membuatku terhenyak di kursi kantin saat itu. Apakah memang selama itu waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa memaafkan? Apakah itu berarti saat ini aku belum bisa memaafkan siapa-siapa sebenarnya?

    Ternyata, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah, ya, memang selama itu, dan ya, aku memang masih belum, dan belum bisa memaafkan siapa-siapa. Butuh entah berapa puluh jam dibutuhkan bagiku untuk bisa menjawab ini. Entah butuh berapa puluh kali sesi karaokean bervoucher dan berapa ratus kali perlu kulakukan two-way monologue ala Sondrelerche dengan diriku sendiri, hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan ini. But it is worthed, atleast. Dan ternyata, selain mampu menjawab kedua pertanyaan tersebut, kali ini aku mampu menjelaskan apa sedang ku alami saat ini. Dan apa yang sedang aku alami saat ini, berkaitan erat dengan definisi dari konsep menerima yang ideal, atleast ideal untuk diriku sendiri.

    Menerima, berbeda dengan kedua konsep lainnya yang merupakan konsep tentang sebuah keadaan, ternyata adalah konsep tentang sebuah proses. Proses ini sendiri dibagi menjadi tiga fase, di mana nantinya hal ini menjadi alasan mengapa proses menerima merupakan bagian yang paling panjang serta berat dibandingkan kedua konsep lainnya. Fase pertama ialah, ketika kau sudah mengambil pilihan berdasarkan hasil kognitif yang terlebih dulu dilakukan ketika melalui konsep mengerti. Pada fase ini, kau dituntut untuk, selain sudah mengambil pilihan, kau juga harus mengetahui konsekuensi dari pilihan tersebut, menerimanya dan siap untuk menjalankannya.

    Fase selanjutnya ialah fase yang kusebut sebagai masa-masa penyangkalan dan penyadaran. Pada fase ini, kau akan dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan yangg mengecewakan, baik mengenai orang yang menjadi sumber masalah maupun mengenai dirimu sendiri. Dan ketika itu, self-defense mechanism kita sebagai manusia aktif seketika. Bukannya menerima dengan lapang dada, kita malah menyangkalnya dengan, baik meninggikan diri kita sendiri, maupun merendah-rendahkan sumber masalah. Secara psikologis, memang sangat amat berat bagi seseorang untuk bisa menerima sebuah kekecewaan sebagai bagian dari hidupnya. Hal ini dapat berpengaruh besar terhadap konsep diri seseorang, apabila tidak diselesaikan dengan baik. Semua itu dikarenakan, pada saat kita sedang berada di dalam fase ini, semua kenyataan-kenyataan baru yang pahit, mengenai diri kita, baru diterima sekarang. Kenyataan-kenyataan tersebut terkadang merupakan pengukuhan akan ketidaksempurnaan kita, dan hal tersebut kadang kala ditanggapi terlalu dalam oleh sebagian orang, sehingga menurunkan / merusak self-esteem mereka.

    Simpelnya, ”Siapa sih yang seneng dikecewain? Emang ada yang mau terima begitu aja kalau dikecewain?”. Itulah pertanyaan yang wajar terlontar ketika sedang melalui fase ini. Analogi yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan kecewa ini adalah, perasaan seorang petinju yang ditinggal lawannya di pertengahan pertandingan. Menyebalkannya, alasan mengapa sang lawan tersebut pergi ialah karena ia tertarik akan ajakan penonton yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertandingan tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi ialah, yang pertama kali mengajak bertanding ialah sang lawan! Bisa bayangkan bagaimana perasaan sang petinju tersebut? Sama seperti perasaan Irwansyah, ketika Acha Septriasa memutuskan untuk tidak berpacaran lagi dengannya, hanya karena Acha akan berkuliah di Malaysia. Perasaan seperti inilah yang kita rasakan, dan umumnya kita sangkal, ketika sedang menghadapi fase kedua dari proses menerima.

    Fase yang terakhir ialah fase membiasakan diri. Pada fase ini, sudah tidak ada lagi penyangkalan-penyangkalan yang tersisa. Kita dituntut untuk sudah mampu menerima semua kenyataan yang menyakitkan tersebut dengan lapang dada. Tugas kita pada fase ini adalah membiasakan diri kita untuk hidup dengan kenyataan-kenyataan tersebut. Memang terlihat dan terdengar sangat mudah, akan tetapi, pada kenyataannya sama sekali tidak mudah. Dibutuhkan hati yang amat besar, serta waktu yang cukup panjang bagi seseorang untuk dapat membiasakan diri menerima kenyataan yang ada. Itulah yang sedang kualami saat ini. Inilah mengapa, bayangan-bayangan mengenai ’dia’ kadang kala masih suka menyakitkan. Akan tetapi, apa yang bisa kulakukan? Toh tidak ada. Yang bisa kulakukan hanyalah menerimanya dengan lapang dada, dan membiasakan diriku sendiri dengan kenyataan bahwa, walaupun sebegitu besar rasa sayang dan cintaku padanya, namun ’dia’ sudah bukan milikku lagi. Memang berat, akan tetapi, menurut buku ”Ayat-ayat Cinta”, sabar, ikhlas, dan tawakkal merupakan kunci untuk bisa melewati fase ini. Atleast, buku dan filmnya laku terjual kan?

    Well, akhir dari fase ketiga, ialah saat kita sudah bisa memaafkan. Saat kita sudah mampu tertawa membicarakan masalah ini, di hadapan orangnya langsung, tanpa ada rasa yang masih terbawa. Saat kita sudah mampu melihat mata orang tersebut, tanpa ada dendam yang tersisa. Saat di mana ketika kita sudah mau, dan bisa untuk melupakan kejadian dan orang di masa lalu. Saat ketika kita sudah berhenti memilih masa lalu sebagai dasar alasan, ataupun tujuan dari pengambilan keputusan hidup kita di masa kini. Saat di mana ketika kita memandang orang tersebut dan tersenyum, dan berterima kasih kepadanya akan pelajaran hidup terbaik yang pernah ia berikan kepada kita. Saat-saat seperti itulah, yang artinya, kau sudah memaafkan seseorang. Akankah lama bagiku untuk bisa merasakan hal tersebut? Berdoa saja semoga tidak.

    Yah, saat ini, sesuai pepatah lama, ”nasi sudah keburu menjadi bubur”. Ikhlaskan saja, dan habiskanlah buburnya. Lebih baik begitu, dari pada harus kelaparan atau malah menghamburkan uang hanya untuk membeli nasi lagi di warung Padang, bukan begitu? Toh seiring waktu berjalan, aku pasti bisa memaafkan ’dia’, dan siapa tahu, aku bisa menjadi seorang penggemar bubur. Dan bisa berkata, apapun bentuk masakannya, yang penting buburnya Bung!

     
    • saskhyaauliaprima 4:32 pm on June 25, 2008 Permalink | Reply

      sahabatmu yang mana genk?hahahaha najis pura-pura nggak tau gw..baca dong postingan gw yang journey of my thoughts to forgive something..ada di bulan may..biar lo tau sahabat lo siapa haha!! (anjrit ga penting bgt gw komen sembari menelfon lo haha)

      ayo genk diskusi yukk

  • ardityategankputra 7:56 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: heartbreak, life, whisper   

    a question about ‘how’ 

    isn’t how can you, but how will you continue your life,
    when you realize that, you can’t turn back time..
    after facing the fact that there is a few question that can’t be answered,
    few heartbreak and wound that can’t be healed..
    no, i wont give up now, not yet,,
    and i wont let this be over, ever!
    but i wouldn’t say “don’t cry..”,
    because not all tears are mean..
    and i wouldn’t say “don’t hope..”,
    because sometimes, whispers seem can be heard louder than a scream…
    understand, embrace it, and get used to it…
    than you can continue your life…
    and forgive…

     
  • ardityategankputra 7:54 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: kefaktaan, , masa kini, masa lalu, maut   

    Kefaktaan Dalam Hidup 

    Life’s Part II

    (Things you can’t ignore…)

    Malam ini, aku menyadari sebuah fakta baru di hidup ini. Mungkin bukan hal yang baru, hanya saja bagiku, baru malam ini aku mengerti apa yang dimaksud oleh fakta yang kudapat tersebut.

    Sartre menyebut ini kefaktaan, sedangkan Jaspers menyebut hal yang akan kubicarakan ini dengan istilah situasi batas. Bagiku, yang manapun sama saja, seperti dia yang pernah mengatakan ”languange is only a matter of perception, right?”. Akan tetapi, untuk lebih mudah menjelaskannya, aku akan menggunakan istilah yang digunakan oleh Sartre, yakni kefaktaan.

    Kefaktaan adalah bagian dari hidup manusia. Ia adalah kejadian-kejadian, faktor-faktor, ataupun hal-hal yang pasti ada di dalam perjalanan hidup manusia. Mutlak keberadaannya, dan tidak dapat disangkal. Menurut Jaspers, manusia memiliki keterikatan dengan situasi batas/kefaktaan yang ada di dalam hidup. Menurut dia, manusia dapat menghindarinya, akan tetapi tidak akan bisa menghilangkannya. Sekali manusia menghindarinya, dia akan menemui kefaktaan yang lain. Jaspers berkata bahwa ”manusia adalah manusia-dalam-situasi.”.

    Sama halnya dengan Jaspers, Sartre juga memasukkan pikirannya demi agar kita mengerti apa yang dimaksud dengan kefaktaan tersebut. Bagi Sartre, manusia dapat melupakan kefaktaan sebentar, ataupun mengolahnya, bahkan memanipulasinya, namun tidak mungkin kefaktaan tersebut ditiadakan. Kefaktaan, di dalam hidup manusia, menurut Sartre, merupakan faktor yang memberi struktur pada manusia, akan tetapi, manusia juga memberi struktur pada kefaktaan itu sendiri.

    Bagiku, ia bukan penghalang kebebasan, akan tetapi, berjalan saling beriringan. Kefaktaan ada untuk kebebasan, begitu pula sebaliknya. Kefaktaan ada untuk kebebasan, dalam artian, apabila tidak ada kefaktaan dalam hidup manusia, maka menghilanglah alasan mengapa manusia memiliki kebebasan. Sedangkan, kefaktaan tanpa kebebasan, layaknya seorang manusia yang berdiri di lorong yang gelap. Ia tahu bahwa ia harus mencari cahaya, dengan cara menyusuri lorong tersebut, akan tetapi ia tidak berani bergerak kemana pun. Manusia seperti itu, menurutku entah ia kehilangan alasan mengapa ia harus hidup, atau malah ia memang tidak memilikinya. Inilah menurut pandanganku, apa itu kefaktaan. Pertanyaan yang sekarang timbul ialah, apa saja yang termasuk kefaktaan, yang ada di dalam hidup manusia?

    Setelah membaca pendapat-pendapat Sartre serta Jaspers, aku berhasil menarik sebuah kesimpulan mengenai apa saja kefaktaan yang ada. Terdapat tiga kefaktaan utama yang terjadi di dalam hidup manusia. Yang pertama ialah masa lalu. Masa lalu ialah kejadian-kejadian, hal-hal, ataupun pilihan-pilihan yang sudah lewat kita ambil, dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Sartre, masa lalu dapat kita lupakan sejenak, ataupun kita manipulasi kemudian kita susun kembali dalam bentuk cerita menurut kehendak kita. Namun kita tidak mungkin akan dapat meniadakan masa lalu kita sendiri, sebab dari apa yang lampau itu, menjadilah kita yang sebagaimana sekarang. Akan tetapi menurutku, sependapat dengan Sartre, salah besar apabila ada yang menganggap masa lalu adalah faktor yang paling menentukan hidup manusia. Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama. Akan tetapi itu semua kembali pada pilihan manusianya sendiri. Manusia bebas memilih, untuk membiarkan masa lalunya mempengaruhi apa yang menjadi hidupnya saat ini, ataupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Berdyaev, yakni masa lalu hanya berarti di dalam hidup manusia, hanya dan hanya jika manusia memilihnya.

    Selanjutnya, masa lalu dibagi menjadi dua jenis kefaktaan. Yang pertama ialah masa lalu positif, contohnya keberhasilan, prestasi, dll. Di dalam menghadapi jenis kefaktaan yang pertama ini, manusia harus selalu diingatkan bahwa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Seperti yang diungkapkan oleh Jaspers, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Pengingatan tersebut menjadi penting, dikarenakan manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi sombong. Dengan menjadi sombong, manusia kehilangan arah dan tujuannya di dalam hidup, dan kehilangan kebebasannya dikarenakan hanya berpegang teguh hanya pada keberhasilannya yang sudah lewat. Memandang tentang kecenderungan manusia untuk menjadi sombong, Nietzsche menekankan ”Will nothing beyond your capacity; there is a wicked falseness who will beyond their capacity.”.

    Jenis kefaktaan yang kedua ialah masa lalu negatif, yakni kekecewaan, kehilangan, rasa bersalah, dan rasa malu. Di sinilah diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai konsep mengerti, menerima, dan memaafkan, dalam menghadapi jenis kefaktaan yang kedua ini. Hal tersebut sangat penting diperlukan agar manusia dapat dengan tepat menerima insight atau pelajaran yang ada tersirat di dalam kefaktaan yang terjadi. Dengan menerima insight dan pelajaran yang tepat, maka diharapkan manusia dapat membentuk diri menjadi lebih baik, demi masa depannya sendiri.

    Selanjutnya, kefaktaan utama yang berikutnya ialah masa kini. Masa kini adalah keadaan atau kenyataan yang sedang dialami atau dijalani manusia pada saat ini. Terdapat dua kenyataan yang merupakan kefaktaan yang terjadi di hidup manusia di masa kini. Yang pertama ialah konsekuensi dan tanggung jawab. Yang dimaksud dengan hal tersebut ialah, manusia akan, pasti, dan harus menjalani konsekuensi serta tanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya di masa lalu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sartre, yakni ”Man is nothing else but what he makes of himself..where I am responsible for myself and for anyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, i choose man.”. Ini berarti, dengan menjalani konsekuensi serta tanggung jawab kita atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan sebelumnya, barulah kita dapat menyebut diri kita manusia sepenuhnya.

    Kenyataan berikutnya, yang mana merupakan kefaktaan masa kini, ialah paradoks pilihan. Dalam menghadapi hidup, mengikuti pendapat Berdyaev, manusia akan selalu dihadapkan pada pilihan, di mana pilihan tersebut berbentuk paradoks. Yang dimaksud paradoks ialah, keadaan di mana terjadi persengketaan atau konflik antara dua segi atau sudut pandang yang berlawanan di dalam satu kesatuan unsur. Unsur yang dimaksud di sini ialah manusia, sedangkan konflik yang terjadi ialah antara pilihan yang akan, dan harus diambil oleh manusia tersebut. Di sini Berdyaev berpendapat, ”…a self-contradictory and paradoxical being combining opposite within himself.”. Kenyataan yang terjadi di hidup manusia, di mana hal tersebut menjadi paradoks utama di dalam hidup seorang manusia ialah, keberadaan manusia dengan tugas utamanya untuk menjadi individu subjektif yang bebas dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia tersebut hidup di dunia sosial. Sebelumnya, Kierkegaard mengemukakan bahwa “…becoming subjective is the task proposed to every human being.”. Jaspers berpendapat mengenai hal ini, yakni, ketika kita menyadari bahwa manusia memiliki tugas utama yang berlawanan dengan dunia tempat ia hidupnya, maka seketika tugas utama manusia berubah. Saat ini menurutku, menambahkan pendapat Jaspers, tugas utama yang sedang dihadapi manusia ialah, bagaimana caranya manusia bisa menempatkan dirinya, di dalam kehidupan bermasyarakat yang sosial, sebagai individu subjektif yang bebas. Inilah mengapa Jaspers berpendapat ”…freedom is never real as the liberty of individuals alone. Every man is free to the extent others are.”. Di sinilah mengapa manusia membutuhkan kemampuan inter-personal relationship yang baik. Kemampuan tersebut, apabila diaplikasikan dengan baik, maka sedikit banyak mampu menjawab tugas utama yang merupakan kefaktaan, yang sedang dihadapi manusia saat ini.

    Kefaktaan utama terakhir yang dimiliki oleh manusia ialah maut. Maut merupakan kepastian yang paling mantap di dalam hidup manusia, dan tidak terhindarkan. Ia adalah akhir dari hidup semua manusia. Jaspers berpendapat bahwa, maut melekat pada hidup seluruh manusia sebagai suatu kefaktaan yang tidak bisa dielakkan. Sedangkan Sartre menilai maut sebagai akhir eksistensi seorang manusia. Ketika maut datang, menurut Sartre, maka yang tersisa pada manusia ialah esensi-nya. Sartre melanjutkan, dengan kata lain, maut adalah sesuatu yang berada di luar eksistensi, dikarenakan orang lainlah yang memberikan arti pada kematian kita masing-masing, bukan kita sendiri. Hal inilah yang dimaksud dengan esensi seorang manusia, yakni arti yang dimiliki oleh seorang manusia, yang merupakan pemberian orang lain, hanya dan hanya ketika maut datang pada manusia tersebut. Dapat disimpulkan bahwa, maut sebagai kefaktaan memang merupakan batas terhadap kebebasan manusia, akan tetapi, batas tersebut berada di luar eksistensi kita sebagai manusia, sehingga maut baru berarti, dan mempengaruhi manusia, hanya dan hanya bila ia sudah datang menghampiri. Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya.

    Inilah kefaktaan-kefaktaan yang baru kumengerti malam ini, yang menjadi beban pikiranku beberapa malam ini. Inilah tantangan yang menguji kecerdasan serta kesubjektifitasan individu yang bebas. Dengan mampu melalui tantangan-tantangan inilah, maka kita baru bisa benar-benar disebut sebagai manusia seutuhnya.

     
    • dheaaaa 9:18 am on June 24, 2008 Permalink | Reply

      I love this part :
      “Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya. ”

      trus trus kalo yang ini :

      “Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama.”

      menurut gue pribadi, tergantung masing-masing orangnya juga sih dit, bener banget kata Berdayev, tergantung gimana seseorang memaknai masa lalu-nya sendiri. ntar kalo lo udah blajar keprib lo akan lihat deh, tokoh-tokoh seperti Freud & Jung itu orang2 yang menganalisa motif dan kepribadian seseorang berdasarkan masa lalu mereka, disebut juga retrospective. Sedangkan orang-orang seperti Adler itu memandang kepribadian seseorang justru dari goals yang ingin mereka capai di masa depan, disebut juga AAH GUE LUPA DISEBUT APA. hihi. intinya sama aja sih, balik ke diri masing2 aja. :)

      sekian.

      - D! -

  • ardityategankputra 7:51 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , waking life   

    Waking Life 

    Life PART 1

    Siapakah Manusia Menurut Film Ini?

    (a movie and books reviews..)

    Menurutku, terutama setelah menyaksikan film Waking Life tersebut, manusia dilahirkan dengan banyak kelebihan. Tuhan memberikan kepada manusia, tidak hanya sekedar sebuah sistem otak yang hanya dapat mempersepsi layaknya otak binatang. Tuhan memberikan sebuah sistem otak yang sangat kompleks dengan kemampuan khasnya, yakni kemampuan menginterpretasikan. Kemampuan menginterpretasikan yang dimiliki manusia inilah yang disebut dengan sistem simbolik. Sistem ini pulalah yang secara signifikan, membedakan manusia dengan hewan. Dengan menggunakan sistem inilah, manusia dapat berpikir, mencipta, berkreasi, atau yang paling dasar, yakni untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kemampuan manusia ini pulalah, sejarah panjang mengenai evolusi manusia dapat terjadi.

    Manusia menyadari bahwa, dengan kemampuan simbolik yang ia miliki, ia ternyata tidak memiliki satupun batasan di dalam kemampuannya untuk berpikir dan bernalar. Ditambah lagi, seperti yang telah disebutkan di dalam film, bahwa ketika seorang manusia lahir, Tuhan men-download pengetahuan-pengetahuan yang telah terlebih dahulu didapat oleh para pendahulu manusia. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa, memang manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar yang tidak terbatas. Seperti yang juga disebutkan di film, bahwa manusia adalah mikrokosmos, yakni dunia mind yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas. Hal-hal yang telah disebutkan di atas kini membawa manusia kepada realitas kodrat yang ia miliki.

    Selanjutnya, dengan adanya kesadaran manusia akan kemampuan simbolik yang ia miliki, serta ketiadaan batas pada kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar, dia dihadapkan pada suatu realitas kebebasan. Kebebasan yang dimaksud di sini ialah kebebasan manusia untuk memilih dan berkehendak dalam menentukan sendiri jalan hidup yang ia ingin tempuh. Sudah merupakan tugas mendasar seorang manusia, yakni untuk menulis cerita kehidupan dia sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Sartre yang mengatakan bahwa hidup manusia merupakan hasil dari kumpulan rencana serta tindakan yang dia pilih dan kehendaki secara pribadi. Nietzsche juga berpendapat bahwa, dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia harus mengisinya dengan tujuan, harapan, dan cita-cita yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas, sesuai dengan keinginan kita sendiri.

    Kesadaran akan adanya kodrat kebebasan untuk memilih dan berkehendak pada diri manusia sangatlah penting. Hal ini dikarenakan, menurut Nietzsche, kehidupan tanpa adanya kebebasan untuk memilih dan berkehendak merupakan kehidupan yang tak bermakna, atau sama dengan mati. Akan tetapi, Nietzsche pun mengingatkan betapa pentingnya bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri serta batas-batas kemampuan fisik yang dia miliki. Hal ini dikarenakan, salah satu batasan dari kebebasan yang manusia miliki ialah manusia itu sendiri. Selain itu, dengan mengenali diri sendiri, diharapkan antara kehendak dan pilihan seorang manusia, dengan aplikasi perbuatannya, terdapat hubungan relevansi yang logis. Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang di sampaikan oleh Socrates, yakni ”Know thy self”.

    Akan tetapi, kebebasan yang manusia miliki harus didahului dengan sebuah penalaran akan tujuan dan diikuti dengan tanggung jawab. Menurut Jaspers, di dalam mengisi kebebasannya, manusia harus memiliki penalaran akan tujuan, atau alasan atas setiap hasil pikirannya maupun perbuatannya. Jaspers berpendapat bahwa dengan memiliki penalaran akan tujuannya, manusia akan dapat memprediksi dirinya di masa depan. Selanjutnya, manusia juga memiliki kewajiban untuk mempertanggung jawabkan segala hasil pikirannya maupun perbuatannya dikala mengisi kebebasan yang dia miliki. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Sartre, yakni bahwa setiap keputusan yang diambil oleh seorang manusia, ditujukan oleh manusia itu sendiri. Sehingga apabila nantinya terjadi kesalahan, manusia itu sendirilah yang harus memperbaikinya, dan dia tidak boleh menyalahkan orang lain.

    Setelah kita membahas tentang konsep kebebasan berkehendak yang dimiliki oleh manusia, muncullah sebuah pertanyaan yang dilontarkan pada film ini. Bagaimana caranya manusia bisa memiliki kebebasan yang absolut apabila Tuhan sudah mengetahui terlebih dahulu tentang apa saja yang akan manusia lakukan? Pertanyaan ini sudah menjadi masalah besar bagi para filsuf-filsuf ternama, bahkan sejak sebelum masa Aristoteles. Apakah sebenarnya saat ini manusia berada di dalam sebuah sistem yang sudah terlebih dahulu dirancang dan diatur oleh Tuhan? Ataukah, Tuhan hanya bertugas sebagai pengawas, dan membiarkan manusia, sebagai ciptaannya, untuk bebas menentukan jalan hidupnya sendiri? Belum ada satu orang pun filsuf yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, tanpa mengesampingkan masalah ini, manusia harus tetap menjalankan kodrat kebebasannya, baik untuk memilih dan berkehendak. Karena hanya dengan menjalankan kodratnya inilah, seseorang dapat merasakan hidup sebagai seorang manusia.

    Selain terdapat paradoks mengenai konsep kebebasan yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa pengekang lagi terhadap konsep kebebasan yang manusia miliki. Faktor-faktor tersebut berasal dari luar manusia, terutama berasal dari masyarakat dan sosial. Melencengnya fungsi pers, norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat, dan yang terakhir ialah usaha penyamarataan nilai individu seseorang di mata masyarakat dan pemerintah. Hal-hal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dapat menjadi halangan bagi manusia untuk menjalani kebebasan yang seutuh-utuhnya.

    Pers berubah, seperti yang telah di sebutkan di film, dari yang awalnya merupakan sarana masyarakat untuk mengetahui kejadian yang terjadi di seluruh belahan dunia, berubah menjadi alat doktrinisasi pemerintah. Norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat bermula dari sebuah niatan yang baik, yakni untuk menjaga stabilitas di masyarakat. Akan tetapi, pada praktiknya, seperti yang telah disebutkan di film, proses penegakan norma dan nilai yang ada di masyarakat telah dimonopoli oleh grup-grup dan kelas-kelas yang berkuasa di masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh grup-grup atau kelas-kelas yang berkuasa tersebut.

    Faktor-faktor pengekang yang telah disebutkan di ataslah yang membuat manusia terhambat kebebasannya. Faktor-faktor tersebut membuat manusia menjalani hidup mereka, tanpa sadar, menjadi monoton dan tanpa tujuan. Manusia yang telah direnggut kesadarannya akan kebebasan yang ia miliki, menurut film, tiada bedanya dengan sebuah robot. Akan tetapi, setelah mempelajari film serta buku-buku yang ada dengan seksama, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan. Kunci bagi manusia untuk dapat tetap menjalani kebebasan yang ia miliki di tengah-tengah seluruh keterbatasan yang ia hadapi ialah kemampuan self-conscious dan self-awareness. Manusia harus secara sadar, menyadari kebebasan yang ia miliki di dalam hidupnya, dan menjalaninya dengan kemampuan berpikir dan bernalar yang ia miliki. Manusia juga harus mampu menggabungkan, secara sadar dan bebas, kemampuan rasionalitas yang ia miliki, dengan hidupnya yang memiliki kemungkinan harapan dan cita-cita yang tidak terbatas.

    Setelah kita menganalis manusia, dari sudut pandang yang terdapat di dalam film, literatur-literatur filsafat, serta penalaran yang aku miliki, sampailah kita pada sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan pada awal essai ini. Siapakah manusia menurut film ini? Manusia, dapat disebut sebagai manusia, itu berarti ia telah mampu menyadari bahwa, sebenarnya dia memiliki kodrat yang mutlak ia miliki yang berbentuk kebebasan untuk memilih dan berkehendak. Kebebasan dalam menentukan gambaran kepribadian seperti apa yang ia ingin tunjukkan, serta menentukan jalan hidup seperti apa yang ia ingin jalani. Sebagai manusia, itu berarti ia juga telah mampu menjalani kehidupan yang penuh dengan harapan, kemungkinan, dan cita-cita yang tak terbatas, di mana secara sadar dan bebas ia kehendaki, dengan penuh pertimbangan dan rasionalitas, serta penuh dengan semangat hidup. Dialah manusia itu.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel