Tagged: manusia RSS

  • ardityategankputra 7:54 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: kefaktaan, manusia, masa kini, masa lalu, maut   

    Kefaktaan Dalam Hidup 

    Life’s Part II

    (Things you can’t ignore…)

    Malam ini, aku menyadari sebuah fakta baru di hidup ini. Mungkin bukan hal yang baru, hanya saja bagiku, baru malam ini aku mengerti apa yang dimaksud oleh fakta yang kudapat tersebut.

    Sartre menyebut ini kefaktaan, sedangkan Jaspers menyebut hal yang akan kubicarakan ini dengan istilah situasi batas. Bagiku, yang manapun sama saja, seperti dia yang pernah mengatakan ”languange is only a matter of perception, right?”. Akan tetapi, untuk lebih mudah menjelaskannya, aku akan menggunakan istilah yang digunakan oleh Sartre, yakni kefaktaan.

    Kefaktaan adalah bagian dari hidup manusia. Ia adalah kejadian-kejadian, faktor-faktor, ataupun hal-hal yang pasti ada di dalam perjalanan hidup manusia. Mutlak keberadaannya, dan tidak dapat disangkal. Menurut Jaspers, manusia memiliki keterikatan dengan situasi batas/kefaktaan yang ada di dalam hidup. Menurut dia, manusia dapat menghindarinya, akan tetapi tidak akan bisa menghilangkannya. Sekali manusia menghindarinya, dia akan menemui kefaktaan yang lain. Jaspers berkata bahwa ”manusia adalah manusia-dalam-situasi.”.

    Sama halnya dengan Jaspers, Sartre juga memasukkan pikirannya demi agar kita mengerti apa yang dimaksud dengan kefaktaan tersebut. Bagi Sartre, manusia dapat melupakan kefaktaan sebentar, ataupun mengolahnya, bahkan memanipulasinya, namun tidak mungkin kefaktaan tersebut ditiadakan. Kefaktaan, di dalam hidup manusia, menurut Sartre, merupakan faktor yang memberi struktur pada manusia, akan tetapi, manusia juga memberi struktur pada kefaktaan itu sendiri.

    Bagiku, ia bukan penghalang kebebasan, akan tetapi, berjalan saling beriringan. Kefaktaan ada untuk kebebasan, begitu pula sebaliknya. Kefaktaan ada untuk kebebasan, dalam artian, apabila tidak ada kefaktaan dalam hidup manusia, maka menghilanglah alasan mengapa manusia memiliki kebebasan. Sedangkan, kefaktaan tanpa kebebasan, layaknya seorang manusia yang berdiri di lorong yang gelap. Ia tahu bahwa ia harus mencari cahaya, dengan cara menyusuri lorong tersebut, akan tetapi ia tidak berani bergerak kemana pun. Manusia seperti itu, menurutku entah ia kehilangan alasan mengapa ia harus hidup, atau malah ia memang tidak memilikinya. Inilah menurut pandanganku, apa itu kefaktaan. Pertanyaan yang sekarang timbul ialah, apa saja yang termasuk kefaktaan, yang ada di dalam hidup manusia?

    Setelah membaca pendapat-pendapat Sartre serta Jaspers, aku berhasil menarik sebuah kesimpulan mengenai apa saja kefaktaan yang ada. Terdapat tiga kefaktaan utama yang terjadi di dalam hidup manusia. Yang pertama ialah masa lalu. Masa lalu ialah kejadian-kejadian, hal-hal, ataupun pilihan-pilihan yang sudah lewat kita ambil, dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Sartre, masa lalu dapat kita lupakan sejenak, ataupun kita manipulasi kemudian kita susun kembali dalam bentuk cerita menurut kehendak kita. Namun kita tidak mungkin akan dapat meniadakan masa lalu kita sendiri, sebab dari apa yang lampau itu, menjadilah kita yang sebagaimana sekarang. Akan tetapi menurutku, sependapat dengan Sartre, salah besar apabila ada yang menganggap masa lalu adalah faktor yang paling menentukan hidup manusia. Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama. Akan tetapi itu semua kembali pada pilihan manusianya sendiri. Manusia bebas memilih, untuk membiarkan masa lalunya mempengaruhi apa yang menjadi hidupnya saat ini, ataupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Berdyaev, yakni masa lalu hanya berarti di dalam hidup manusia, hanya dan hanya jika manusia memilihnya.

    Selanjutnya, masa lalu dibagi menjadi dua jenis kefaktaan. Yang pertama ialah masa lalu positif, contohnya keberhasilan, prestasi, dll. Di dalam menghadapi jenis kefaktaan yang pertama ini, manusia harus selalu diingatkan bahwa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Seperti yang diungkapkan oleh Jaspers, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Pengingatan tersebut menjadi penting, dikarenakan manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi sombong. Dengan menjadi sombong, manusia kehilangan arah dan tujuannya di dalam hidup, dan kehilangan kebebasannya dikarenakan hanya berpegang teguh hanya pada keberhasilannya yang sudah lewat. Memandang tentang kecenderungan manusia untuk menjadi sombong, Nietzsche menekankan ”Will nothing beyond your capacity; there is a wicked falseness who will beyond their capacity.”.

    Jenis kefaktaan yang kedua ialah masa lalu negatif, yakni kekecewaan, kehilangan, rasa bersalah, dan rasa malu. Di sinilah diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai konsep mengerti, menerima, dan memaafkan, dalam menghadapi jenis kefaktaan yang kedua ini. Hal tersebut sangat penting diperlukan agar manusia dapat dengan tepat menerima insight atau pelajaran yang ada tersirat di dalam kefaktaan yang terjadi. Dengan menerima insight dan pelajaran yang tepat, maka diharapkan manusia dapat membentuk diri menjadi lebih baik, demi masa depannya sendiri.

    Selanjutnya, kefaktaan utama yang berikutnya ialah masa kini. Masa kini adalah keadaan atau kenyataan yang sedang dialami atau dijalani manusia pada saat ini. Terdapat dua kenyataan yang merupakan kefaktaan yang terjadi di hidup manusia di masa kini. Yang pertama ialah konsekuensi dan tanggung jawab. Yang dimaksud dengan hal tersebut ialah, manusia akan, pasti, dan harus menjalani konsekuensi serta tanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya di masa lalu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sartre, yakni ”Man is nothing else but what he makes of himself..where I am responsible for myself and for anyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, i choose man.”. Ini berarti, dengan menjalani konsekuensi serta tanggung jawab kita atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan sebelumnya, barulah kita dapat menyebut diri kita manusia sepenuhnya.

    Kenyataan berikutnya, yang mana merupakan kefaktaan masa kini, ialah paradoks pilihan. Dalam menghadapi hidup, mengikuti pendapat Berdyaev, manusia akan selalu dihadapkan pada pilihan, di mana pilihan tersebut berbentuk paradoks. Yang dimaksud paradoks ialah, keadaan di mana terjadi persengketaan atau konflik antara dua segi atau sudut pandang yang berlawanan di dalam satu kesatuan unsur. Unsur yang dimaksud di sini ialah manusia, sedangkan konflik yang terjadi ialah antara pilihan yang akan, dan harus diambil oleh manusia tersebut. Di sini Berdyaev berpendapat, ”…a self-contradictory and paradoxical being combining opposite within himself.”. Kenyataan yang terjadi di hidup manusia, di mana hal tersebut menjadi paradoks utama di dalam hidup seorang manusia ialah, keberadaan manusia dengan tugas utamanya untuk menjadi individu subjektif yang bebas dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia tersebut hidup di dunia sosial. Sebelumnya, Kierkegaard mengemukakan bahwa “…becoming subjective is the task proposed to every human being.”. Jaspers berpendapat mengenai hal ini, yakni, ketika kita menyadari bahwa manusia memiliki tugas utama yang berlawanan dengan dunia tempat ia hidupnya, maka seketika tugas utama manusia berubah. Saat ini menurutku, menambahkan pendapat Jaspers, tugas utama yang sedang dihadapi manusia ialah, bagaimana caranya manusia bisa menempatkan dirinya, di dalam kehidupan bermasyarakat yang sosial, sebagai individu subjektif yang bebas. Inilah mengapa Jaspers berpendapat ”…freedom is never real as the liberty of individuals alone. Every man is free to the extent others are.”. Di sinilah mengapa manusia membutuhkan kemampuan inter-personal relationship yang baik. Kemampuan tersebut, apabila diaplikasikan dengan baik, maka sedikit banyak mampu menjawab tugas utama yang merupakan kefaktaan, yang sedang dihadapi manusia saat ini.

    Kefaktaan utama terakhir yang dimiliki oleh manusia ialah maut. Maut merupakan kepastian yang paling mantap di dalam hidup manusia, dan tidak terhindarkan. Ia adalah akhir dari hidup semua manusia. Jaspers berpendapat bahwa, maut melekat pada hidup seluruh manusia sebagai suatu kefaktaan yang tidak bisa dielakkan. Sedangkan Sartre menilai maut sebagai akhir eksistensi seorang manusia. Ketika maut datang, menurut Sartre, maka yang tersisa pada manusia ialah esensi-nya. Sartre melanjutkan, dengan kata lain, maut adalah sesuatu yang berada di luar eksistensi, dikarenakan orang lainlah yang memberikan arti pada kematian kita masing-masing, bukan kita sendiri. Hal inilah yang dimaksud dengan esensi seorang manusia, yakni arti yang dimiliki oleh seorang manusia, yang merupakan pemberian orang lain, hanya dan hanya ketika maut datang pada manusia tersebut. Dapat disimpulkan bahwa, maut sebagai kefaktaan memang merupakan batas terhadap kebebasan manusia, akan tetapi, batas tersebut berada di luar eksistensi kita sebagai manusia, sehingga maut baru berarti, dan mempengaruhi manusia, hanya dan hanya bila ia sudah datang menghampiri. Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya.

    Inilah kefaktaan-kefaktaan yang baru kumengerti malam ini, yang menjadi beban pikiranku beberapa malam ini. Inilah tantangan yang menguji kecerdasan serta kesubjektifitasan individu yang bebas. Dengan mampu melalui tantangan-tantangan inilah, maka kita baru bisa benar-benar disebut sebagai manusia seutuhnya.

     
    • dheaaaa 9:18 am on June 24, 2008 Permalink | Reply

      I love this part :
      “Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya. ”

      trus trus kalo yang ini :

      “Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama.”

      menurut gue pribadi, tergantung masing-masing orangnya juga sih dit, bener banget kata Berdayev, tergantung gimana seseorang memaknai masa lalu-nya sendiri. ntar kalo lo udah blajar keprib lo akan lihat deh, tokoh-tokoh seperti Freud & Jung itu orang2 yang menganalisa motif dan kepribadian seseorang berdasarkan masa lalu mereka, disebut juga retrospective. Sedangkan orang-orang seperti Adler itu memandang kepribadian seseorang justru dari goals yang ingin mereka capai di masa depan, disebut juga AAH GUE LUPA DISEBUT APA. hihi. intinya sama aja sih, balik ke diri masing2 aja. :)

      sekian.

      - D! -

  • ardityategankputra 7:51 am on June 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: manusia, waking life   

    Waking Life 

    Life PART 1

    Siapakah Manusia Menurut Film Ini?

    (a movie and books reviews..)

    Menurutku, terutama setelah menyaksikan film Waking Life tersebut, manusia dilahirkan dengan banyak kelebihan. Tuhan memberikan kepada manusia, tidak hanya sekedar sebuah sistem otak yang hanya dapat mempersepsi layaknya otak binatang. Tuhan memberikan sebuah sistem otak yang sangat kompleks dengan kemampuan khasnya, yakni kemampuan menginterpretasikan. Kemampuan menginterpretasikan yang dimiliki manusia inilah yang disebut dengan sistem simbolik. Sistem ini pulalah yang secara signifikan, membedakan manusia dengan hewan. Dengan menggunakan sistem inilah, manusia dapat berpikir, mencipta, berkreasi, atau yang paling dasar, yakni untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kemampuan manusia ini pulalah, sejarah panjang mengenai evolusi manusia dapat terjadi.

    Manusia menyadari bahwa, dengan kemampuan simbolik yang ia miliki, ia ternyata tidak memiliki satupun batasan di dalam kemampuannya untuk berpikir dan bernalar. Ditambah lagi, seperti yang telah disebutkan di dalam film, bahwa ketika seorang manusia lahir, Tuhan men-download pengetahuan-pengetahuan yang telah terlebih dahulu didapat oleh para pendahulu manusia. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa, memang manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar yang tidak terbatas. Seperti yang juga disebutkan di film, bahwa manusia adalah mikrokosmos, yakni dunia mind yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas. Hal-hal yang telah disebutkan di atas kini membawa manusia kepada realitas kodrat yang ia miliki.

    Selanjutnya, dengan adanya kesadaran manusia akan kemampuan simbolik yang ia miliki, serta ketiadaan batas pada kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar, dia dihadapkan pada suatu realitas kebebasan. Kebebasan yang dimaksud di sini ialah kebebasan manusia untuk memilih dan berkehendak dalam menentukan sendiri jalan hidup yang ia ingin tempuh. Sudah merupakan tugas mendasar seorang manusia, yakni untuk menulis cerita kehidupan dia sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Sartre yang mengatakan bahwa hidup manusia merupakan hasil dari kumpulan rencana serta tindakan yang dia pilih dan kehendaki secara pribadi. Nietzsche juga berpendapat bahwa, dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia harus mengisinya dengan tujuan, harapan, dan cita-cita yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas, sesuai dengan keinginan kita sendiri.

    Kesadaran akan adanya kodrat kebebasan untuk memilih dan berkehendak pada diri manusia sangatlah penting. Hal ini dikarenakan, menurut Nietzsche, kehidupan tanpa adanya kebebasan untuk memilih dan berkehendak merupakan kehidupan yang tak bermakna, atau sama dengan mati. Akan tetapi, Nietzsche pun mengingatkan betapa pentingnya bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri serta batas-batas kemampuan fisik yang dia miliki. Hal ini dikarenakan, salah satu batasan dari kebebasan yang manusia miliki ialah manusia itu sendiri. Selain itu, dengan mengenali diri sendiri, diharapkan antara kehendak dan pilihan seorang manusia, dengan aplikasi perbuatannya, terdapat hubungan relevansi yang logis. Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang di sampaikan oleh Socrates, yakni ”Know thy self”.

    Akan tetapi, kebebasan yang manusia miliki harus didahului dengan sebuah penalaran akan tujuan dan diikuti dengan tanggung jawab. Menurut Jaspers, di dalam mengisi kebebasannya, manusia harus memiliki penalaran akan tujuan, atau alasan atas setiap hasil pikirannya maupun perbuatannya. Jaspers berpendapat bahwa dengan memiliki penalaran akan tujuannya, manusia akan dapat memprediksi dirinya di masa depan. Selanjutnya, manusia juga memiliki kewajiban untuk mempertanggung jawabkan segala hasil pikirannya maupun perbuatannya dikala mengisi kebebasan yang dia miliki. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Sartre, yakni bahwa setiap keputusan yang diambil oleh seorang manusia, ditujukan oleh manusia itu sendiri. Sehingga apabila nantinya terjadi kesalahan, manusia itu sendirilah yang harus memperbaikinya, dan dia tidak boleh menyalahkan orang lain.

    Setelah kita membahas tentang konsep kebebasan berkehendak yang dimiliki oleh manusia, muncullah sebuah pertanyaan yang dilontarkan pada film ini. Bagaimana caranya manusia bisa memiliki kebebasan yang absolut apabila Tuhan sudah mengetahui terlebih dahulu tentang apa saja yang akan manusia lakukan? Pertanyaan ini sudah menjadi masalah besar bagi para filsuf-filsuf ternama, bahkan sejak sebelum masa Aristoteles. Apakah sebenarnya saat ini manusia berada di dalam sebuah sistem yang sudah terlebih dahulu dirancang dan diatur oleh Tuhan? Ataukah, Tuhan hanya bertugas sebagai pengawas, dan membiarkan manusia, sebagai ciptaannya, untuk bebas menentukan jalan hidupnya sendiri? Belum ada satu orang pun filsuf yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, tanpa mengesampingkan masalah ini, manusia harus tetap menjalankan kodrat kebebasannya, baik untuk memilih dan berkehendak. Karena hanya dengan menjalankan kodratnya inilah, seseorang dapat merasakan hidup sebagai seorang manusia.

    Selain terdapat paradoks mengenai konsep kebebasan yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa pengekang lagi terhadap konsep kebebasan yang manusia miliki. Faktor-faktor tersebut berasal dari luar manusia, terutama berasal dari masyarakat dan sosial. Melencengnya fungsi pers, norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat, dan yang terakhir ialah usaha penyamarataan nilai individu seseorang di mata masyarakat dan pemerintah. Hal-hal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dapat menjadi halangan bagi manusia untuk menjalani kebebasan yang seutuh-utuhnya.

    Pers berubah, seperti yang telah di sebutkan di film, dari yang awalnya merupakan sarana masyarakat untuk mengetahui kejadian yang terjadi di seluruh belahan dunia, berubah menjadi alat doktrinisasi pemerintah. Norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat bermula dari sebuah niatan yang baik, yakni untuk menjaga stabilitas di masyarakat. Akan tetapi, pada praktiknya, seperti yang telah disebutkan di film, proses penegakan norma dan nilai yang ada di masyarakat telah dimonopoli oleh grup-grup dan kelas-kelas yang berkuasa di masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh grup-grup atau kelas-kelas yang berkuasa tersebut.

    Faktor-faktor pengekang yang telah disebutkan di ataslah yang membuat manusia terhambat kebebasannya. Faktor-faktor tersebut membuat manusia menjalani hidup mereka, tanpa sadar, menjadi monoton dan tanpa tujuan. Manusia yang telah direnggut kesadarannya akan kebebasan yang ia miliki, menurut film, tiada bedanya dengan sebuah robot. Akan tetapi, setelah mempelajari film serta buku-buku yang ada dengan seksama, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan. Kunci bagi manusia untuk dapat tetap menjalani kebebasan yang ia miliki di tengah-tengah seluruh keterbatasan yang ia hadapi ialah kemampuan self-conscious dan self-awareness. Manusia harus secara sadar, menyadari kebebasan yang ia miliki di dalam hidupnya, dan menjalaninya dengan kemampuan berpikir dan bernalar yang ia miliki. Manusia juga harus mampu menggabungkan, secara sadar dan bebas, kemampuan rasionalitas yang ia miliki, dengan hidupnya yang memiliki kemungkinan harapan dan cita-cita yang tidak terbatas.

    Setelah kita menganalis manusia, dari sudut pandang yang terdapat di dalam film, literatur-literatur filsafat, serta penalaran yang aku miliki, sampailah kita pada sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan pada awal essai ini. Siapakah manusia menurut film ini? Manusia, dapat disebut sebagai manusia, itu berarti ia telah mampu menyadari bahwa, sebenarnya dia memiliki kodrat yang mutlak ia miliki yang berbentuk kebebasan untuk memilih dan berkehendak. Kebebasan dalam menentukan gambaran kepribadian seperti apa yang ia ingin tunjukkan, serta menentukan jalan hidup seperti apa yang ia ingin jalani. Sebagai manusia, itu berarti ia juga telah mampu menjalani kehidupan yang penuh dengan harapan, kemungkinan, dan cita-cita yang tak terbatas, di mana secara sadar dan bebas ia kehendaki, dengan penuh pertimbangan dan rasionalitas, serta penuh dengan semangat hidup. Dialah manusia itu.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel