Cinta (a theoritical approach of an irrational commonsense concept)

Part I

Mungkin aku bukan orang yang paling ahli ketika membicarakan cinta, aku juga bukan yang paling berpengalaman. Tetapi aku bersyukur karena sudah diizinkan untuk merasakannya, dan bahkan bukan hanya karena itu, aku bersyukur. Aku juga bersyukur karena, tidak hanya aku pernah merasakannya, aku juga diizinkan untuk pernah jatuh ke dalamnya, dan merasakan kehilangan akan keberadaannya. Namun apakah itu cukup bagiku untuk bisa menjelaskan bagaimana rasanya, dan apa itu cinta, yang kurasakan ketika bersama dirimu? Well, itu adalah sebuah pertanyaan yang cukup relatif jawabannya. Akan tetapi aku yakin bahwa itu cukup. Cukup, karena untuk bisa sampai di sini, I must faced a lot of deniying moment, cruciating moment of understanding, and accepting first. Atas dasar-dasar inilah, melalui tulisan ini, aku berusaha untuk menyampaikan pandanganku tentang cinta.

Cinta adalah sebuah dilusi yang nyata dan rasional. Dia tidak konkrit berbentuk, namun nyata bisa kau rasakan, baik senangnya, maupun sakitnya. Dia seperti udara, tidak dapat kau lihat dan kau rasakan, akan tetapi kau yakin ia ada, dan kau membutuhkannya. Cinta memberikan kekuatan, serta keberanian kepada diri kita, untuk dapat melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikir akan mampu kita lakukan sebelumnya. Untuk dapat mengalahkan ketakutan terbesar kita, apapun bentuknya, di dalam hidup kita. Cinta bagaikan krayon jutaan warna, yang memberikan warna-warni baru di atas kertas polos cerita hidup kita. Cinta memberikan ruang serta kebebasan yang tidak terbatas, untuk berekspresi, untuk dapat menjadi diri kita sendiri, apa adanya. Cinta adalah ketika kita menyadari ketidaksempurnaan orang lain, akan tetapi tetap mencintai orang tersebut, atas kesempurnaan dirinya yang kita temui di dalam ketidaksempurnaannya. Cinta mampu membuatmu melupakan semua masalah di dalam hidupmu untuk sejenak, dan membuatmu bisa menikmati hidupmu, seberat apapun itu. Cinta adalah keindahan di tengah-tengah ketidak teraturan hidupmu.

Inilah gambaran tentang cinta yang aku miliki, indah bukan? Perasaan seperti inilah yang kudapat, ketika kau sedang berada di dekatku. Kau membuatku menghilangkan kewaspadaanku, seraya ku larut di dalam cintamu. Ya, aku telah jatuh ke dalamnya, ke dalam cinta. Namun, apakah itu salah? Apakah itu baik, ataukah itu buruk? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul di benakku ketika aku ditinggalkan olehmu, oleh cinta, sedangkan aku masih tenggelam di dalamnya.

Well, untuk pertanyaan pertama, aku bisa dengan tegas menjawab bahwa hal tersebut tidaklah salah. Ini dikarenakan, di dalam hidup manusia, setiap tindakan manusia yang beralasan, tidak pernah salah selama masih bisa dipertanggungjawabkan. Yang salah ialah keadaan, serta ekspektasi dan judgement yang dimiliki oleh, baik diriku sendiri maupun orang lain, yang memiliki kecenderungan ke arah yang tidak realistis. Jelas hal ini membuatku bertanya lagi, apakah saat itu aku punya alasan yang kuat mengapa aku tanpa sadar tiba-tiba memilih untuk jatuh ke dalam cinta? Apakah saat itu, ekspektasi yang kumiliki pada dirimu, terlalu tinggi dan tidak realistis?

Ternyata jawaban yang kudapat, sungguh amat sangat menyakitkan. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki alasan yang jelas, mengapa aku memilih untuk jatuh ke dalam cinta ini. Aku juga menyadari bahwa, ekspektasi serta harapan yang kumiliki pada dirimu, terlalu tinggi dan tidak realistis. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan jatuh cinta, berubah menjadi sesuatu yang buruk.

Seperti sudah kukatakan di bagian awal tulisan ini, yakni walaupun berbentuk dilusi, cinta itu nyata dan rasional, sehingga seharusnya dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan di setiap tindakan seseorang, yang mengatasnamakan cinta. Ketika tenggelam di dalamnya, kau bukan tenggelam di dalam cinta, melainkan tenggelam di dalam dilusi yang kau buat dan bentuk sendiri. Dan ketika kau tenggelam di dalamnya, kau akan kehilangan kerasionalitasanmu, dan kau akan kehilangan pedoman untuk bisa menentukan mana hal yang nyata, dengan yang tidak. Hal-hal tersebut di atas seolah-olah menggambarkan bahwa, ketika seseorang jatuh cinta, maka dia akan tertidur, dan menjalani cinta di dalam mimpinya. Ini jelas tidak sesuai dengan quotes yang dilontarkan oleh Dr. Seuss mengenai cinta, yang berbunyi ”when you are falling in love, it must be hard for you to fall asleep. It is because, love makes the reality more beautifull than your dreams..”. Quotes tersebut sesuai dengan face definition yang dimiliki oleh cinta, yakni cinta adalah sesuatu yang nyata keberadaannya melalui perbuatan dan usaha, bukan sekedar angan-angan dan mimpi belaka.

Semua argumentasi di atas membuatku kembali bertanya-tanya. Apakah berarti dengan ini, kita sama sekali tidak boleh mendekati cinta, apalagi jatuh di dalamnya? Kalau begitu, untuk apa cinta itu ada? Apakah kita membutuhkannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjelaskan bahwa, dibutuhkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai cinta, dari sudut pandang yang lebih rasional dan logis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Miller & Siegel di dalam bukunya, Love: A Psychological Approach, yang berbunyi “Walaupun diyakini oleh banyak ahli psikologi, bahwa cinta ialah sebuah konsep yang sehat di dalam masyarakat, dan dapat mempengaruhi kita (bagian dari masyarakat), suatu keyakinan bukanlah definisi, dan tidak dapat dielakkan bahwa suatu definisi harus mampu dibuktikan”.

Menurut pandangan Erich Fromm, di dalam bukunya, The Art Of Loving, yang berbunyi ”Manusia adalah seekor hewan yang memiliki masalah. Ditakdirkan untuk memiliki seluruh instink dan kemampuan biologis seekor hewan untuk bertahan hidup, tapi, sebagai tambahannya, manusia juga dianugrahi kemampuan untuk berpikir dan bernalar. Hal inilah yang membuatnya merasa terbagi, dalam keadaan terabaikan secara alamiah dan, sebagai akibatnya, manusia menderita rasa keterasingan dan kesendirian. Dalam usahanya memerangi rasa keterasingan dan kesendiriannya itu, manusia melakukan usaha untuk bisa bersatu dengan sesamanya. Usaha inilah yang menyatukan manusia dengan rasnya, dan usaha inilah yang dapat menggambarkan apa itu cinta.”. Pandangan tersebut, sangat amat menjelaskan mengapa seseorang membutuhkan kehadiran cinta di dalam hidupnya. Bentuk kehadiran cinta tersebut, ialah dengan kehadiran orang lain ke dalam hidup kita, yang dapat menghilangkan rasa kesepian, serta keterasingan kita sebagai manusia.

Selanjutnya, menurut pendapat para tokoh eksistensialisme, cinta merupakan sebuah tingkatan lanjut akan kenyamanan rasional yang kau dapat, dari sebuah hubungan inter-subjektif yang ideal antara dua manusia. Hanya saja, menurut para tokoh tersebut, sangat sulit bagi manusia untuk dapat mewujudkan hubungan inter-subjektif tersebut. Hal ini dikarenakan toleransi masing-masing orang, untuk dapat menerima subjektifitas orang lain di dalam hidupnya, berbeda-beda. Bahkan, salah seorang filsuf eksistensialisme ternama, yakni J.P Sartre, dengan tegas mengemukakan ketidaksukaannya pada konsep cinta. Dia berpendapat bahwa, ”Hubungan cinta sekalipun, tidak lain merupakan suatu penjelmaan yang akhirnya bersifat sengketa karena kecenderungan objektifikasi yang tidak bisa dihindarkan dalam hubungan seseorang dengan lainnya.”. Di sinilah mengapa, di dalam sebuah hubungan yang didasari oleh rasa cinta, dibutuhkan perbuatan serta usaha yang cukup dan tepat, untuk dapat menyelaraskan, baik subjektifitas, persepsi, maupun ekspektasi yang ada di diri yang satu dengan pasangannya secara berkala tanpa henti.

Melihat pandangan dari para eksistensialis di atas, di mana dapat disimpulkan bahwa, cinta membutuhkan usaha yang luar biasa. Di mana usaha tersebut harus dilakukan, agar membuat cinta menjadi ada dan menjaga keberadaannya. Seorang psikolog, yakni Robert Sternberg, ternyata juga mengemukakan pendapat yang sama dengan kesimpulan yang kuambil tersebut. Menurut dia, ”Cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat, dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan dan biasanya kisah tersebut mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.”. Sternberg menekankan bahwa, kisah cinta tersebut hanya akan ada apabila terjadi hubungan antara dua orang yang merasakan hal yang sama. Kemudian dia melanjutkan, dengan mengatakan ”We must constantly work at understanding, building, and rebuilding our loving relationships. Relationships are constructions, and they decay over time if they are not maintain and improved. We cannot expect a relationship simply to take care of itself, any more than we can expect that of a building. Rather, we must take responsibility for making our relationships the best they can be.”.

Dari semua pendapat mengenai cinta yang dilontarkan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan, yakni bagi manusia, cinta merupakan sebuah kebutuhan yang didasari oleh usaha. Kebutuhan untuk merasa memiliki dan dimiliki, untuk dapat merasakan sebuah kenyamanan rasional. Kenyamanan rasional yang dimaksud ialah sebuah kondisi di mana rasionalitasmu dimanjakan, dikarenakan hadirnya orang lain, di mana orang tersebut memiliki visi, ekspektasi, serta kepribadian yang sejalan dan saling mengisi, dengan individu manusia tersebut. Dan demi mendapatkan apa yang kau butuhkan tersebut, ataupun demi menjaganya, kau harus terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Pertanyaan yang timbul berikutnya adalah, apakah aku tahu apa yang sebenarnya kubutuhkan, untuk bisa mencintai?

Dalam buku Social Psychology karangan Donald Light, terdapat sebuah pendapat yang menarik. Light berpendapat bahwa, dalam mencari seseorang untuk dicintai, manusia akan mencari seseorang yang menurut mereka memiliki kepribadian yang ideal. Yang dimaksud dengan kepribadian ideal di sini ialah, suatu susunan sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh seorang individu, akan tetapi ingin dimiliki oleh individu tersebut, dengan tujuan ingin menjadi individu yang lebih baik. Akan tetapi, agar pendapat tersebut dapat diterapkan secara maksimal oleh seseorang, terdapat syarat yang mutlak. Syarat yang dimaksud ialah, untuk bisa mengetahui kepribadian ideal yang kau inginkan, terlebih dulu kau harus mengetahui kepribadianmu terlebih dahulu. Inilah aplikasi yang memperjelas betapa pentingnya pendapat yang dilontarkan oleh Socrates, yakni ”Know thy self”. Hal tersebut dikarenakan, ketika kita mengetahui sepenuhnya diri kita yang sebenarnya, maka kitapun akan mengetahui apa yang kita butuhkan di dalam hidup kita.

Sekarang masalah yang muncul berikutnya ialah, terkadang ketika kita sudah mengetahui apa yang kita butuhkan, kita mengalami kesulitan untuk mengkonkritkannya, sehingga terkadang kita bisa merasa mencintai seseorang yang salah. Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka pengetahuan akan konsep Basic, Performance, and Excitment sangat amat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan, konsep tersebut sangat amat membantu menjabarkan secara detail dalam bentuk susunan indikator, akan kepribadian ideal yang kau butuhkan.

Sekarang, apakah itu konsep Basic, Performance, and Excitment? Yang pertama ialah Basic. Kita dapat menganalogikan Basic layaknya nasi. Nasi, bagi orang Indonesia, merupakan makanan pokok. Ia harus ada, karena apabila ia tidak ada, maka makan apapun kita, kita akan tetap merasa bahwa kita belum makan sama sekali. Apabila diterapkan ke manusia, maka Basic dapat dianalogikan sebagai bentuk fisik yang kau sukai. Selanjutnya ialah Performance. Kita dapat menganalogikan Performance layaknya lauk, di mana setiap kali kita makan, pastinya harus ada pula. Perbedaannya dengan Basic ialah kuantitasnya. Ketika ia jumlahnya hanya sedikit, pasti akan mengesalkan, sedangkan apabila jumlahnya lebih banyak dari biasanya, maka akan meningkatkan kepuasan. Apabila diterapkan ke manusia, maka Performance dapat dianalogikan sebagai kelebihan-kelebihan yang ada di orang itu, baik berbentuk sifat-sifat, maupun kelebihan-kelebihan lainnya, di luar virtue dasar manusia. Yang terakhir ialah Excitment. Kita dapat menganalogikan Excitment sebagai kerupuk. Apabila ada, akan menambah kepuasan, namun apabila tidak ada, maka tidak akan mempengaruhi apa-apa. Apabila diterapkan kepada manusia, maka Excitment dapat dianalogikan sebagai kemampuan orang itu untuk membuat kita senang. Bisa berbentuk hobinya, maupun yang lainnya.

Hanya dan hanya jika indikator-indikator di atas dipenuhi, maka barulah cinta akan hadir. Inilah alasannya mengapa cinta merupakan sebuah bentuk kebutuhan akan sebuah kenyamanan rasional. Salah apabila ada seseorang yang mengatakan bahwa chemistry comes before rationality, karena pada prakteknya, kau nyaman karena kebutuhan rasionalitasmu di penuhi. Seorang pakar psikologi dari Australi, Patricia Noller, mendukung pendapat yang kusampaikan dengan berkata, ”Love is sustained by belief that love involves acknowledging and accepting differences and weaknesses; that love involves an internal decision to love another person and a long-term commitment to maintain that love; and finally that love is controllable and needs to be nurtured and nourished by the lovers.”. Cinta baru ada ketika kau menjadi nyaman sepenuhnya dikarenakan nilai-nilai kebutuhan yang kau dapatkan dari hasil kognitifmu berhasil dipenuhi. Dipenuhi dengan datangnya seseorang yang memiliki kepribadian yang kau butuhkan. Kepribadian yang bisa membuat hidupmu berwarna. Dan kau mau berkomitmen dan berusaha untuk memperjuangkannya. Ya! Inilah yang aku rasakan ketika aku bertemu denganmu.

Sedihnya ialah, layaknya semua hal yang ada di hidup ini, cinta juga merupakan sebuah pilihan. Kau berhak memilih, untuk menerimanya dalam hidupmu atau tidak. Bahkan ketika kau memutuskan untuk menerimanya, kau masih akan dihadapkan dengan ratusan pilihan lainnya. Itulah konsekuensi yang kau dapat ketika memilih cinta, ya! Aku memilih cinta dan menghadapi konsekuensinya.

Ya! Aku memilihmu bukan karena emosi semata. Aku memilihmu, karena kamu berhasil memenuhi indikator yang aku miliki. Aku memilih untuk mencintaimu, seperti yang dulu pernah kukatakan, dan tidak akan pernah berhenti untuk kukatakan. I say this, not because i can’t live without you, because i can. It is because I choose to love you, to live with you in my life, to spend the rest of my days with you. I love you.

Notes:

Story of an old Skin Horse and the Velveteen Rabbit…

“not just to play with, but REALLY loves you, than you become Real.”

“Does it hurt? Asked the Rabbit.

“Sometimes,” said the Skin Horse, for he was always truthful. “When you are Real, you don’t mind being hurt.”

“Does it happen all at once, like being wound up,” he asked, “or bit by bit?”

“It doesn’t happen all at once,” said the Skin Horse. “You become. It takes a long time. That’s why it doesn’t often happen to who break easily, or have sharp edges, or who have to be carefully kept. Generally, by the time you are Real, most of your hair has been loved off, and your eyes drop out and you get loose in the joints and very shabby. But these things don’t matter at all, because once you are Real you can’t be ugly, except to people who don’t understand.”

Advertisements

5 thoughts on “Cinta (a theoritical approach of an irrational commonsense concept)

  1. eh..itu quote seuss yang dari buku quote gw tercinta ya?haha sialan tulisan gw selanjutnya ada itunya tuh ya nggak apa lah..

    well genk love isn`t a strange thing..dan itu hanya 1 WARNA per 1 ORANG jadi jgn pernah kehilangan banyak warna hanya untuk 1 orang!

    okee nice thought..ayo diskusi lagi..we`ll have much more to talk about, one thing for sure thanks for being a good fellas to involve in many discussions..trimakasihh ga takut berpikir..ga takut diajak mikir..haha ternyata ada yang takut..lho?

  2. gang geng gong brarti mencari fisik yang kita sukai paling penting dong? kan nasi yang paling vital kan diantara yg lain? kalo menurut gw fisik itu excitement! hehehehheehehhe.. gatau juga ah tapii.. yang jelas cinta bikin uring2 an.. ahahhaha dangdut banget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s