Kefaktaan Dalam Hidup

Life’s Part II

(Things you can’t ignore…)

Malam ini, aku menyadari sebuah fakta baru di hidup ini. Mungkin bukan hal yang baru, hanya saja bagiku, baru malam ini aku mengerti apa yang dimaksud oleh fakta yang kudapat tersebut.

Sartre menyebut ini kefaktaan, sedangkan Jaspers menyebut hal yang akan kubicarakan ini dengan istilah situasi batas. Bagiku, yang manapun sama saja, seperti dia yang pernah mengatakan ”languange is only a matter of perception, right?”. Akan tetapi, untuk lebih mudah menjelaskannya, aku akan menggunakan istilah yang digunakan oleh Sartre, yakni kefaktaan.

Kefaktaan adalah bagian dari hidup manusia. Ia adalah kejadian-kejadian, faktor-faktor, ataupun hal-hal yang pasti ada di dalam perjalanan hidup manusia. Mutlak keberadaannya, dan tidak dapat disangkal. Menurut Jaspers, manusia memiliki keterikatan dengan situasi batas/kefaktaan yang ada di dalam hidup. Menurut dia, manusia dapat menghindarinya, akan tetapi tidak akan bisa menghilangkannya. Sekali manusia menghindarinya, dia akan menemui kefaktaan yang lain. Jaspers berkata bahwa ”manusia adalah manusia-dalam-situasi.”.

Sama halnya dengan Jaspers, Sartre juga memasukkan pikirannya demi agar kita mengerti apa yang dimaksud dengan kefaktaan tersebut. Bagi Sartre, manusia dapat melupakan kefaktaan sebentar, ataupun mengolahnya, bahkan memanipulasinya, namun tidak mungkin kefaktaan tersebut ditiadakan. Kefaktaan, di dalam hidup manusia, menurut Sartre, merupakan faktor yang memberi struktur pada manusia, akan tetapi, manusia juga memberi struktur pada kefaktaan itu sendiri.

Bagiku, ia bukan penghalang kebebasan, akan tetapi, berjalan saling beriringan. Kefaktaan ada untuk kebebasan, begitu pula sebaliknya. Kefaktaan ada untuk kebebasan, dalam artian, apabila tidak ada kefaktaan dalam hidup manusia, maka menghilanglah alasan mengapa manusia memiliki kebebasan. Sedangkan, kefaktaan tanpa kebebasan, layaknya seorang manusia yang berdiri di lorong yang gelap. Ia tahu bahwa ia harus mencari cahaya, dengan cara menyusuri lorong tersebut, akan tetapi ia tidak berani bergerak kemana pun. Manusia seperti itu, menurutku entah ia kehilangan alasan mengapa ia harus hidup, atau malah ia memang tidak memilikinya. Inilah menurut pandanganku, apa itu kefaktaan. Pertanyaan yang sekarang timbul ialah, apa saja yang termasuk kefaktaan, yang ada di dalam hidup manusia?

Setelah membaca pendapat-pendapat Sartre serta Jaspers, aku berhasil menarik sebuah kesimpulan mengenai apa saja kefaktaan yang ada. Terdapat tiga kefaktaan utama yang terjadi di dalam hidup manusia. Yang pertama ialah masa lalu. Masa lalu ialah kejadian-kejadian, hal-hal, ataupun pilihan-pilihan yang sudah lewat kita ambil, dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Sartre, masa lalu dapat kita lupakan sejenak, ataupun kita manipulasi kemudian kita susun kembali dalam bentuk cerita menurut kehendak kita. Namun kita tidak mungkin akan dapat meniadakan masa lalu kita sendiri, sebab dari apa yang lampau itu, menjadilah kita yang sebagaimana sekarang. Akan tetapi menurutku, sependapat dengan Sartre, salah besar apabila ada yang menganggap masa lalu adalah faktor yang paling menentukan hidup manusia. Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama. Akan tetapi itu semua kembali pada pilihan manusianya sendiri. Manusia bebas memilih, untuk membiarkan masa lalunya mempengaruhi apa yang menjadi hidupnya saat ini, ataupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Berdyaev, yakni masa lalu hanya berarti di dalam hidup manusia, hanya dan hanya jika manusia memilihnya.

Selanjutnya, masa lalu dibagi menjadi dua jenis kefaktaan. Yang pertama ialah masa lalu positif, contohnya keberhasilan, prestasi, dll. Di dalam menghadapi jenis kefaktaan yang pertama ini, manusia harus selalu diingatkan bahwa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Seperti yang diungkapkan oleh Jaspers, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Pengingatan tersebut menjadi penting, dikarenakan manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi sombong. Dengan menjadi sombong, manusia kehilangan arah dan tujuannya di dalam hidup, dan kehilangan kebebasannya dikarenakan hanya berpegang teguh hanya pada keberhasilannya yang sudah lewat. Memandang tentang kecenderungan manusia untuk menjadi sombong, Nietzsche menekankan ”Will nothing beyond your capacity; there is a wicked falseness who will beyond their capacity.”.

Jenis kefaktaan yang kedua ialah masa lalu negatif, yakni kekecewaan, kehilangan, rasa bersalah, dan rasa malu. Di sinilah diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai konsep mengerti, menerima, dan memaafkan, dalam menghadapi jenis kefaktaan yang kedua ini. Hal tersebut sangat penting diperlukan agar manusia dapat dengan tepat menerima insight atau pelajaran yang ada tersirat di dalam kefaktaan yang terjadi. Dengan menerima insight dan pelajaran yang tepat, maka diharapkan manusia dapat membentuk diri menjadi lebih baik, demi masa depannya sendiri.

Selanjutnya, kefaktaan utama yang berikutnya ialah masa kini. Masa kini adalah keadaan atau kenyataan yang sedang dialami atau dijalani manusia pada saat ini. Terdapat dua kenyataan yang merupakan kefaktaan yang terjadi di hidup manusia di masa kini. Yang pertama ialah konsekuensi dan tanggung jawab. Yang dimaksud dengan hal tersebut ialah, manusia akan, pasti, dan harus menjalani konsekuensi serta tanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya di masa lalu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sartre, yakni ”Man is nothing else but what he makes of himself..where I am responsible for myself and for anyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, i choose man.”. Ini berarti, dengan menjalani konsekuensi serta tanggung jawab kita atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan sebelumnya, barulah kita dapat menyebut diri kita manusia sepenuhnya.

Kenyataan berikutnya, yang mana merupakan kefaktaan masa kini, ialah paradoks pilihan. Dalam menghadapi hidup, mengikuti pendapat Berdyaev, manusia akan selalu dihadapkan pada pilihan, di mana pilihan tersebut berbentuk paradoks. Yang dimaksud paradoks ialah, keadaan di mana terjadi persengketaan atau konflik antara dua segi atau sudut pandang yang berlawanan di dalam satu kesatuan unsur. Unsur yang dimaksud di sini ialah manusia, sedangkan konflik yang terjadi ialah antara pilihan yang akan, dan harus diambil oleh manusia tersebut. Di sini Berdyaev berpendapat, ”…a self-contradictory and paradoxical being combining opposite within himself.”. Kenyataan yang terjadi di hidup manusia, di mana hal tersebut menjadi paradoks utama di dalam hidup seorang manusia ialah, keberadaan manusia dengan tugas utamanya untuk menjadi individu subjektif yang bebas dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia tersebut hidup di dunia sosial. Sebelumnya, Kierkegaard mengemukakan bahwa “…becoming subjective is the task proposed to every human being.”. Jaspers berpendapat mengenai hal ini, yakni, ketika kita menyadari bahwa manusia memiliki tugas utama yang berlawanan dengan dunia tempat ia hidupnya, maka seketika tugas utama manusia berubah. Saat ini menurutku, menambahkan pendapat Jaspers, tugas utama yang sedang dihadapi manusia ialah, bagaimana caranya manusia bisa menempatkan dirinya, di dalam kehidupan bermasyarakat yang sosial, sebagai individu subjektif yang bebas. Inilah mengapa Jaspers berpendapat ”…freedom is never real as the liberty of individuals alone. Every man is free to the extent others are.”. Di sinilah mengapa manusia membutuhkan kemampuan inter-personal relationship yang baik. Kemampuan tersebut, apabila diaplikasikan dengan baik, maka sedikit banyak mampu menjawab tugas utama yang merupakan kefaktaan, yang sedang dihadapi manusia saat ini.

Kefaktaan utama terakhir yang dimiliki oleh manusia ialah maut. Maut merupakan kepastian yang paling mantap di dalam hidup manusia, dan tidak terhindarkan. Ia adalah akhir dari hidup semua manusia. Jaspers berpendapat bahwa, maut melekat pada hidup seluruh manusia sebagai suatu kefaktaan yang tidak bisa dielakkan. Sedangkan Sartre menilai maut sebagai akhir eksistensi seorang manusia. Ketika maut datang, menurut Sartre, maka yang tersisa pada manusia ialah esensi-nya. Sartre melanjutkan, dengan kata lain, maut adalah sesuatu yang berada di luar eksistensi, dikarenakan orang lainlah yang memberikan arti pada kematian kita masing-masing, bukan kita sendiri. Hal inilah yang dimaksud dengan esensi seorang manusia, yakni arti yang dimiliki oleh seorang manusia, yang merupakan pemberian orang lain, hanya dan hanya ketika maut datang pada manusia tersebut. Dapat disimpulkan bahwa, maut sebagai kefaktaan memang merupakan batas terhadap kebebasan manusia, akan tetapi, batas tersebut berada di luar eksistensi kita sebagai manusia, sehingga maut baru berarti, dan mempengaruhi manusia, hanya dan hanya bila ia sudah datang menghampiri. Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya.

Inilah kefaktaan-kefaktaan yang baru kumengerti malam ini, yang menjadi beban pikiranku beberapa malam ini. Inilah tantangan yang menguji kecerdasan serta kesubjektifitasan individu yang bebas. Dengan mampu melalui tantangan-tantangan inilah, maka kita baru bisa benar-benar disebut sebagai manusia seutuhnya.

Advertisements

One thought on “Kefaktaan Dalam Hidup

  1. I love this part :
    “Ini berarti, tugas manusia dalam menghadapi maut ialah, bagaimana manusia mampu memberikan arti pada hidupnya sebagai subjek di setiap detik pada hidupnya, di dalam menghadapi maut yang absurd kedatangannya, akan tetapi mutlak adanya. ”

    trus trus kalo yang ini :

    “Memang benar bahwa masa lalu adalah yang menjadikan kita sebagaimana adanya sekarang, akan tetapi ia hanya membentuk kita, bukanlah alasan atas pilihan-pilihan yang akan, maupun yang kita ambil sekarang. Ia bisa menjadi dasar pertimbangan, tetapi bukan alasan utama.”

    menurut gue pribadi, tergantung masing-masing orangnya juga sih dit, bener banget kata Berdayev, tergantung gimana seseorang memaknai masa lalu-nya sendiri. ntar kalo lo udah blajar keprib lo akan lihat deh, tokoh-tokoh seperti Freud & Jung itu orang2 yang menganalisa motif dan kepribadian seseorang berdasarkan masa lalu mereka, disebut juga retrospective. Sedangkan orang-orang seperti Adler itu memandang kepribadian seseorang justru dari goals yang ingin mereka capai di masa depan, disebut juga AAH GUE LUPA DISEBUT APA. hihi. intinya sama aja sih, balik ke diri masing2 aja. 🙂

    sekian.

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s