Mengerti, Menerima, dan Memaafkan

Sebelum ini, aku mengira bahwa, saat ini, aku sudah memaafkan dia. Ya! Tapi mengapa, bayangan senyumnya ketika memeluk pria itu, gelak tawanya ketika bersama orang itu, masih terbayang dengan jelas di pikiranku? Menghantuiku, dan mengganggu hidupku? Kupikir selama ini, yang dimaksud dengan memaafkan ialah keadaan di mana kau mengerti apa yang telah terjadi di dalam hidupmu, dan menerima apa adanya, tanpa adanya sedikitpun rasa penyesalan akan apa yang telah terjadi, maupun dendam untuk membalas. Yah, memang itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, memaafkan bukanlah konsep yang tepat untuk definisi tersebut. Bahkan, memaafkan, walaupun memang merupakan konsep tentang sebuah keadaan, untuk dapat mencapainya, dibutuhkan sebuah proses yang amat sangat panjang terlebih dahulu. Ternyata memang benar pendapat Karl Jaspers mengenai kenyataan bahwa hidup adalah sebuah proses perbaikan diri yang tak berujung. Hal itu tersirat pada kata-katanya, yakni ”The goal of philosophical life cannot be formulated as a state of being which is attainable, and once attained, perfect..it lies in our very nature to be on-the-way to perfection”. Kalau begitu, apa yang saat ini sedang terjadi pada diriku sebenarnya?

Sebelum aku mencoba untuk menjawab pertanyaanku sendiri di atas, terlebih dahulu aku akan menceritakan mengapa aku bisa memiliki definisi yang salah mengenai konsep memaafkan. Suatu hari, seorang sahabat pernah menyampaikan jalan pikirannya kepadaku. Ketika itu, dia sedang menasehati diriku yang sedang dirundung masalah. Dia berkata bahwa, ketika seseorang menghadapi sebuah masalah yang berhubungan tentang hubungan antar manusia, maka orang tersebut akan dituntut untuk mampu mengerti, menerima, dan kemudian memaafkan. Dia selanjutnya berkata bahwa, ketika, dan hanya ketika dengan menjalankan ketiganya, orang tersebut akan dapat menarik pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi, dan kemudian orang tersebut dapat berubah menjadi lebih baik dan labih dewasa dalam menyikapi hidupnya. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa, dari berbagai aspek, ketiga hal tersebut benar-benar berbeda satu sama lain. Dia juga menegaskan bahwa untuk mampu menjalankannya, dibutuhkan kesadaran yang cukup tinggi, untuk berpikir rasional dan logis. Hal tersebut ia sampaikan, karena menurut dia, tanpa adanya kesadaran tersebut, maka pengetahuan akan ketiga hal/konsep tersebut akan menjadi sia-sia. Pendapatnya mengenai pentingnya kondisi syarat tersebut sesuai dengan pendapat Rene Descartes, di mana dia adalah seorang tokoh yang sangat dikagumi oleh sahabatku tersebut. Descartes berprinsip ”Cognito Ergo Sum”, yang berarti, ”Aku berpikir, maka dari itu aku ada”.

Sayangnya, ketika itu, sahabatku lupa untuk menyampaikan definisi yang dimiliki masing-masing oleh ketiga hal tersebut, entah karena dia sedang sakit dan baru saja meminum panadol, atau, entahlah. Well, aku juga tidak tahu, saat itu, entah dia memang tidak sengaja lupa untuk menyampaikannya, ataukah ia memang sengaja membiarkanku untuk berpikir sendiri sesuai dimensi yang aku miliki. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, tingkat urgensi yang dimiliki oleh masalah yang kuhadapi untuk segera kuselesaikan, saat itu sangatlah tinggi. Hal tersebut yang mendorongku untuk segera mengadopsi jalan pikiran yang dimiliki oleh sahabatku tersebut, untuk kemudian dinalar olehku, diadaptasikan dengan masalah yang ada, kemudian dijalankan. Namun, keputusanku untuk menalar ketiga hal tersebut, hanya menggunakan sudut pandang diriku sendiri, membawa masalah di kemudian hari. Masalah tersebut ialah kebingungan akan apa yang sedang kuhadapi saat ini.

Ketika itu, aku mendefinisikan keadaan mengerti sebagai sebuah keadaan di mana ketika seseorang berhenti berpikir menggunakan hati serta melibatkan emosi ketika menghadapi sebuah masalah. Pada saat itulah, seseorang yang sedang menghadapi masalah memulai proses untuk berpikir sepenuhnya menggunakan rasionalitas yang ia miliki, dengan tujuan untuk mengerti keadaan serta masalah seperti apa yang sebenarnya sedang ia hadapi. Pada fase ini, hasil akhir yang diharapkan ialah, seseorang tersebut mampu menjabarkan dengan jelas dan runtut akan masalah yang sedang ia hadapi. Selain itu, ia juga diharapkan mampu untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan akan pilihan-pilihan yang dapat ia ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sampai di sini, belum terlihat munculnya kesalahan penalaran yang aku alami.

Selanjutnya, pada momen yang sama, aku mendefinisikan keadaan yang kedua, yakni menerima, sebagai sebuah keadaan di mana seseorang mampu menangkap dengan baik, kenyataan-kenyataan yang diterima dirinya, yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Kenyataan-kenyataan yang telah ditangkap dengan baik tersebut, kemudian diterima dengan berbesar hati dan lapang dada. Kenyataan-kenyataan yang dimaksud di sini contohnya, kekalahan, kesalahan-kesalahan, baik dari pihak lain maupun dari diri sendiri, dan lain macam sebagainya. Pada tahap penalaran inilah, yang apabila dihubungkan dengan kenyataan di mana aku merasa sudah menjalankan dan melewatkan fase ini serta sudah melanjutkan ke fase memaafkan, timbul sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud ialah pertanyaan yang diajukan oleh diriku sendiri di awal tulisan ini.

Melalui definisi di atas, entah kenapa bagiku belum cukup, untuk bisa menjelaskan apa yang sedang kurasakan saat ini. Maka dimulailah, sekali lagi, perjalananku mencari kebenaran, tepat ketika kukira ini semua sudah berakhir. Menyedihkan memang, akan tetapi, inilah salah satu contoh dari situasi batas penderitaan dan kegelisahan, yang dijelaskan oleh Jaspers, di mana kita, sebagai manusia, harus hadapi dan jalani di dalam hidup. Akan tetapi, ternyata perjalanan tersebut tidak sia-sia. Beruntunglah ketika itu, Eross SO7 dan Okta mau dengan senang hati mendendangkan lagu Gie setiap hari di mobilku, sehingga aku merasa aku tidak berjalan sendirian. Walaupun memang aku sama sekali tidak melewati jalan setapak di malam hari karena yang kulalui setiap hari adalah jalan tol. Akan tetapi tetap, sekali lagi, perjalanan tersebut tidak sia-sia.

Tepat beberapa hari sebelum aku menulis uraian ini, aku terlibat sebuah perdebatan yang cukup menarik, dengan sahabatku yang dulu mengajarkanku ketiga konsep ini, mengenai definisi menerima. Dia mengatakan bahwa, definisi menerima yang kumiliki terlalu dangkal dan, seperti yang kurasakan sendiri, tidak mampu menjelaskan beberapa hal. Kemudian dia mengatakan, ”Genk, once a wise man said, it takes a very long time to forgiving someone, and that fact are undenieable, atleast for me..”. Kata-katanya sungguh membuatku terhenyak di kursi kantin saat itu. Apakah memang selama itu waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa memaafkan? Apakah itu berarti saat ini aku belum bisa memaafkan siapa-siapa sebenarnya?

Ternyata, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah, ya, memang selama itu, dan ya, aku memang masih belum, dan belum bisa memaafkan siapa-siapa. Butuh entah berapa puluh jam dibutuhkan bagiku untuk bisa menjawab ini. Entah butuh berapa puluh kali sesi karaokean bervoucher dan berapa ratus kali perlu kulakukan two-way monologue ala Sondrelerche dengan diriku sendiri, hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan ini. But it is worthed, atleast. Dan ternyata, selain mampu menjawab kedua pertanyaan tersebut, kali ini aku mampu menjelaskan apa sedang ku alami saat ini. Dan apa yang sedang aku alami saat ini, berkaitan erat dengan definisi dari konsep menerima yang ideal, atleast ideal untuk diriku sendiri.

Menerima, berbeda dengan kedua konsep lainnya yang merupakan konsep tentang sebuah keadaan, ternyata adalah konsep tentang sebuah proses. Proses ini sendiri dibagi menjadi tiga fase, di mana nantinya hal ini menjadi alasan mengapa proses menerima merupakan bagian yang paling panjang serta berat dibandingkan kedua konsep lainnya. Fase pertama ialah, ketika kau sudah mengambil pilihan berdasarkan hasil kognitif yang terlebih dulu dilakukan ketika melalui konsep mengerti. Pada fase ini, kau dituntut untuk, selain sudah mengambil pilihan, kau juga harus mengetahui konsekuensi dari pilihan tersebut, menerimanya dan siap untuk menjalankannya.

Fase selanjutnya ialah fase yang kusebut sebagai masa-masa penyangkalan dan penyadaran. Pada fase ini, kau akan dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan yangg mengecewakan, baik mengenai orang yang menjadi sumber masalah maupun mengenai dirimu sendiri. Dan ketika itu, self-defense mechanism kita sebagai manusia aktif seketika. Bukannya menerima dengan lapang dada, kita malah menyangkalnya dengan, baik meninggikan diri kita sendiri, maupun merendah-rendahkan sumber masalah. Secara psikologis, memang sangat amat berat bagi seseorang untuk bisa menerima sebuah kekecewaan sebagai bagian dari hidupnya. Hal ini dapat berpengaruh besar terhadap konsep diri seseorang, apabila tidak diselesaikan dengan baik. Semua itu dikarenakan, pada saat kita sedang berada di dalam fase ini, semua kenyataan-kenyataan baru yang pahit, mengenai diri kita, baru diterima sekarang. Kenyataan-kenyataan tersebut terkadang merupakan pengukuhan akan ketidaksempurnaan kita, dan hal tersebut kadang kala ditanggapi terlalu dalam oleh sebagian orang, sehingga menurunkan / merusak self-esteem mereka.

Simpelnya, ”Siapa sih yang seneng dikecewain? Emang ada yang mau terima begitu aja kalau dikecewain?”. Itulah pertanyaan yang wajar terlontar ketika sedang melalui fase ini. Analogi yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan kecewa ini adalah, perasaan seorang petinju yang ditinggal lawannya di pertengahan pertandingan. Menyebalkannya, alasan mengapa sang lawan tersebut pergi ialah karena ia tertarik akan ajakan penonton yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertandingan tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi ialah, yang pertama kali mengajak bertanding ialah sang lawan! Bisa bayangkan bagaimana perasaan sang petinju tersebut? Sama seperti perasaan Irwansyah, ketika Acha Septriasa memutuskan untuk tidak berpacaran lagi dengannya, hanya karena Acha akan berkuliah di Malaysia. Perasaan seperti inilah yang kita rasakan, dan umumnya kita sangkal, ketika sedang menghadapi fase kedua dari proses menerima.

Fase yang terakhir ialah fase membiasakan diri. Pada fase ini, sudah tidak ada lagi penyangkalan-penyangkalan yang tersisa. Kita dituntut untuk sudah mampu menerima semua kenyataan yang menyakitkan tersebut dengan lapang dada. Tugas kita pada fase ini adalah membiasakan diri kita untuk hidup dengan kenyataan-kenyataan tersebut. Memang terlihat dan terdengar sangat mudah, akan tetapi, pada kenyataannya sama sekali tidak mudah. Dibutuhkan hati yang amat besar, serta waktu yang cukup panjang bagi seseorang untuk dapat membiasakan diri menerima kenyataan yang ada. Itulah yang sedang kualami saat ini. Inilah mengapa, bayangan-bayangan mengenai ’dia’ kadang kala masih suka menyakitkan. Akan tetapi, apa yang bisa kulakukan? Toh tidak ada. Yang bisa kulakukan hanyalah menerimanya dengan lapang dada, dan membiasakan diriku sendiri dengan kenyataan bahwa, walaupun sebegitu besar rasa sayang dan cintaku padanya, namun ’dia’ sudah bukan milikku lagi. Memang berat, akan tetapi, menurut buku ”Ayat-ayat Cinta”, sabar, ikhlas, dan tawakkal merupakan kunci untuk bisa melewati fase ini. Atleast, buku dan filmnya laku terjual kan?

Well, akhir dari fase ketiga, ialah saat kita sudah bisa memaafkan. Saat kita sudah mampu tertawa membicarakan masalah ini, di hadapan orangnya langsung, tanpa ada rasa yang masih terbawa. Saat kita sudah mampu melihat mata orang tersebut, tanpa ada dendam yang tersisa. Saat di mana ketika kita sudah mau, dan bisa untuk melupakan kejadian dan orang di masa lalu. Saat ketika kita sudah berhenti memilih masa lalu sebagai dasar alasan, ataupun tujuan dari pengambilan keputusan hidup kita di masa kini. Saat di mana ketika kita memandang orang tersebut dan tersenyum, dan berterima kasih kepadanya akan pelajaran hidup terbaik yang pernah ia berikan kepada kita. Saat-saat seperti itulah, yang artinya, kau sudah memaafkan seseorang. Akankah lama bagiku untuk bisa merasakan hal tersebut? Berdoa saja semoga tidak.

Yah, saat ini, sesuai pepatah lama, ”nasi sudah keburu menjadi bubur”. Ikhlaskan saja, dan habiskanlah buburnya. Lebih baik begitu, dari pada harus kelaparan atau malah menghamburkan uang hanya untuk membeli nasi lagi di warung Padang, bukan begitu? Toh seiring waktu berjalan, aku pasti bisa memaafkan ’dia’, dan siapa tahu, aku bisa menjadi seorang penggemar bubur. Dan bisa berkata, apapun bentuk masakannya, yang penting buburnya Bung!

Advertisements

One thought on “Mengerti, Menerima, dan Memaafkan

  1. sahabatmu yang mana genk?hahahaha najis pura-pura nggak tau gw..baca dong postingan gw yang journey of my thoughts to forgive something..ada di bulan may..biar lo tau sahabat lo siapa haha!! (anjrit ga penting bgt gw komen sembari menelfon lo haha)

    ayo genk diskusi yukk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s