Waking Life

Life PART 1

Siapakah Manusia Menurut Film Ini?

(a movie and books reviews..)

Menurutku, terutama setelah menyaksikan film Waking Life tersebut, manusia dilahirkan dengan banyak kelebihan. Tuhan memberikan kepada manusia, tidak hanya sekedar sebuah sistem otak yang hanya dapat mempersepsi layaknya otak binatang. Tuhan memberikan sebuah sistem otak yang sangat kompleks dengan kemampuan khasnya, yakni kemampuan menginterpretasikan. Kemampuan menginterpretasikan yang dimiliki manusia inilah yang disebut dengan sistem simbolik. Sistem ini pulalah yang secara signifikan, membedakan manusia dengan hewan. Dengan menggunakan sistem inilah, manusia dapat berpikir, mencipta, berkreasi, atau yang paling dasar, yakni untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kemampuan manusia ini pulalah, sejarah panjang mengenai evolusi manusia dapat terjadi.

Manusia menyadari bahwa, dengan kemampuan simbolik yang ia miliki, ia ternyata tidak memiliki satupun batasan di dalam kemampuannya untuk berpikir dan bernalar. Ditambah lagi, seperti yang telah disebutkan di dalam film, bahwa ketika seorang manusia lahir, Tuhan men-download pengetahuan-pengetahuan yang telah terlebih dahulu didapat oleh para pendahulu manusia. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa, memang manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar yang tidak terbatas. Seperti yang juga disebutkan di film, bahwa manusia adalah mikrokosmos, yakni dunia mind yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas. Hal-hal yang telah disebutkan di atas kini membawa manusia kepada realitas kodrat yang ia miliki.

Selanjutnya, dengan adanya kesadaran manusia akan kemampuan simbolik yang ia miliki, serta ketiadaan batas pada kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar, dia dihadapkan pada suatu realitas kebebasan. Kebebasan yang dimaksud di sini ialah kebebasan manusia untuk memilih dan berkehendak dalam menentukan sendiri jalan hidup yang ia ingin tempuh. Sudah merupakan tugas mendasar seorang manusia, yakni untuk menulis cerita kehidupan dia sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Sartre yang mengatakan bahwa hidup manusia merupakan hasil dari kumpulan rencana serta tindakan yang dia pilih dan kehendaki secara pribadi. Nietzsche juga berpendapat bahwa, dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia harus mengisinya dengan tujuan, harapan, dan cita-cita yang memiliki kemungkinan yang tidak terbatas, sesuai dengan keinginan kita sendiri.

Kesadaran akan adanya kodrat kebebasan untuk memilih dan berkehendak pada diri manusia sangatlah penting. Hal ini dikarenakan, menurut Nietzsche, kehidupan tanpa adanya kebebasan untuk memilih dan berkehendak merupakan kehidupan yang tak bermakna, atau sama dengan mati. Akan tetapi, Nietzsche pun mengingatkan betapa pentingnya bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri serta batas-batas kemampuan fisik yang dia miliki. Hal ini dikarenakan, salah satu batasan dari kebebasan yang manusia miliki ialah manusia itu sendiri. Selain itu, dengan mengenali diri sendiri, diharapkan antara kehendak dan pilihan seorang manusia, dengan aplikasi perbuatannya, terdapat hubungan relevansi yang logis. Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang di sampaikan oleh Socrates, yakni ”Know thy self”.

Akan tetapi, kebebasan yang manusia miliki harus didahului dengan sebuah penalaran akan tujuan dan diikuti dengan tanggung jawab. Menurut Jaspers, di dalam mengisi kebebasannya, manusia harus memiliki penalaran akan tujuan, atau alasan atas setiap hasil pikirannya maupun perbuatannya. Jaspers berpendapat bahwa dengan memiliki penalaran akan tujuannya, manusia akan dapat memprediksi dirinya di masa depan. Selanjutnya, manusia juga memiliki kewajiban untuk mempertanggung jawabkan segala hasil pikirannya maupun perbuatannya dikala mengisi kebebasan yang dia miliki. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Sartre, yakni bahwa setiap keputusan yang diambil oleh seorang manusia, ditujukan oleh manusia itu sendiri. Sehingga apabila nantinya terjadi kesalahan, manusia itu sendirilah yang harus memperbaikinya, dan dia tidak boleh menyalahkan orang lain.

Setelah kita membahas tentang konsep kebebasan berkehendak yang dimiliki oleh manusia, muncullah sebuah pertanyaan yang dilontarkan pada film ini. Bagaimana caranya manusia bisa memiliki kebebasan yang absolut apabila Tuhan sudah mengetahui terlebih dahulu tentang apa saja yang akan manusia lakukan? Pertanyaan ini sudah menjadi masalah besar bagi para filsuf-filsuf ternama, bahkan sejak sebelum masa Aristoteles. Apakah sebenarnya saat ini manusia berada di dalam sebuah sistem yang sudah terlebih dahulu dirancang dan diatur oleh Tuhan? Ataukah, Tuhan hanya bertugas sebagai pengawas, dan membiarkan manusia, sebagai ciptaannya, untuk bebas menentukan jalan hidupnya sendiri? Belum ada satu orang pun filsuf yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, tanpa mengesampingkan masalah ini, manusia harus tetap menjalankan kodrat kebebasannya, baik untuk memilih dan berkehendak. Karena hanya dengan menjalankan kodratnya inilah, seseorang dapat merasakan hidup sebagai seorang manusia.

Selain terdapat paradoks mengenai konsep kebebasan yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa pengekang lagi terhadap konsep kebebasan yang manusia miliki. Faktor-faktor tersebut berasal dari luar manusia, terutama berasal dari masyarakat dan sosial. Melencengnya fungsi pers, norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat, dan yang terakhir ialah usaha penyamarataan nilai individu seseorang di mata masyarakat dan pemerintah. Hal-hal seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dapat menjadi halangan bagi manusia untuk menjalani kebebasan yang seutuh-utuhnya.

Pers berubah, seperti yang telah di sebutkan di film, dari yang awalnya merupakan sarana masyarakat untuk mengetahui kejadian yang terjadi di seluruh belahan dunia, berubah menjadi alat doktrinisasi pemerintah. Norma-norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat bermula dari sebuah niatan yang baik, yakni untuk menjaga stabilitas di masyarakat. Akan tetapi, pada praktiknya, seperti yang telah disebutkan di film, proses penegakan norma dan nilai yang ada di masyarakat telah dimonopoli oleh grup-grup dan kelas-kelas yang berkuasa di masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh grup-grup atau kelas-kelas yang berkuasa tersebut.

Faktor-faktor pengekang yang telah disebutkan di ataslah yang membuat manusia terhambat kebebasannya. Faktor-faktor tersebut membuat manusia menjalani hidup mereka, tanpa sadar, menjadi monoton dan tanpa tujuan. Manusia yang telah direnggut kesadarannya akan kebebasan yang ia miliki, menurut film, tiada bedanya dengan sebuah robot. Akan tetapi, setelah mempelajari film serta buku-buku yang ada dengan seksama, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan. Kunci bagi manusia untuk dapat tetap menjalani kebebasan yang ia miliki di tengah-tengah seluruh keterbatasan yang ia hadapi ialah kemampuan self-conscious dan self-awareness. Manusia harus secara sadar, menyadari kebebasan yang ia miliki di dalam hidupnya, dan menjalaninya dengan kemampuan berpikir dan bernalar yang ia miliki. Manusia juga harus mampu menggabungkan, secara sadar dan bebas, kemampuan rasionalitas yang ia miliki, dengan hidupnya yang memiliki kemungkinan harapan dan cita-cita yang tidak terbatas.

Setelah kita menganalis manusia, dari sudut pandang yang terdapat di dalam film, literatur-literatur filsafat, serta penalaran yang aku miliki, sampailah kita pada sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan pada awal essai ini. Siapakah manusia menurut film ini? Manusia, dapat disebut sebagai manusia, itu berarti ia telah mampu menyadari bahwa, sebenarnya dia memiliki kodrat yang mutlak ia miliki yang berbentuk kebebasan untuk memilih dan berkehendak. Kebebasan dalam menentukan gambaran kepribadian seperti apa yang ia ingin tunjukkan, serta menentukan jalan hidup seperti apa yang ia ingin jalani. Sebagai manusia, itu berarti ia juga telah mampu menjalani kehidupan yang penuh dengan harapan, kemungkinan, dan cita-cita yang tak terbatas, di mana secara sadar dan bebas ia kehendaki, dengan penuh pertimbangan dan rasionalitas, serta penuh dengan semangat hidup. Dialah manusia itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s